Thursday, May 5, 2016

Tegal



Kalau kota Bogor memiliki Puncak, Purwokerto memiliki Baturaden, Yogyakarta memiliki Kali Urang, maka kota Tegal selain dikenal sebagai penghasil teh dan satenya, Tegal juga punya daerah wisata yang tak kalah dengan daerah lain yakni pemandian air panas Guci yang terkenal sejuk dan asri.
Berbatasan dengan Brebes dan Pekalongan Obyek Wisata Guci berada di kaki Gunung Slamet. Guci yang secara geografis masuk ke wilayah Kabupaten Tegal ini merupakan daerah subur yang berudara dingin. Suasana pegununungan sudah tampak ketika kita memasuki daerah kabupaten Tegal. Guci ini tepatnya berlokasi di Kecamatan Bumijawa, Kabupaten Tegal.
Sebelum memasuki obyek wisata pemandian air panas Guci itu akan kita lewati daerah subur dengan pemandangan sawah, perkebunan sayur dan bawang merah akan mendominasi sepanjang kanan dan kiri jalan yang kita lalui. Rasa tak sabar ingin merasakan air yang konon berkhasiat di Guci terhibur dengan pemandangan indah dan udara sejuk itu. Jalan raya menuju Guci yang tidak terlalu ramai semakin merasuk ke dalam jiwa serta membangkitkan suasasa pedesaan nan damai.
Sekitar lima kilometer lagi menuju lokasi, tampak vila-vila atau pemondokan yang berjejer dipinggir disewakan untuk menampung para pelancong yang ingin bermalam. Tegal tidak hanya dikenal dengan Gucinya, teh pocinya tidak boleh dilupakan untuk dicicipi. Rasanya kurang afdol jika sudah sampai di Tegal tidak menghirup tehnya yang kental dan manis. Pocinya yang terbuat dari tanah liat menambah kenikmatan tersendiri.
Menurut mitos yang telah beredar selama ratusan tahun, air panas Guci adalah air yang diberikan Walisongo kepada orang yang mereka utus untuk menyiarkan agama Islam ke Jawa Tengah bagian barat di sekitar Tegal. Karena air itu ditempatkan di sebuah guci (poci), dan berkhasiat mendatangkan berkat, masyarakat menyebut lokasi pemberian air itu dengan nama Guci.
Tetapi karena air pemberian wali itu sangat terbatas, pada malam Jumat Kliwon, salah seorang sunan menancapkan tongkat saktinya ke tanah. Atas izin Tuhan, mengalirlah air panas tanpa belerang yang penuh rahmat ini. Nah, Sampai saat ini, setiap malam Jumat Kliwon, banyak orang datang dan mandi di tempat pemandian air panas ini untuk mendapat berkah. Bagi masyarakat sekitar obyek wisata ini, Guci adalah air hangat yang mengalir deras dari ujungnya, terus-menerus, tanpa henti. Kehangatan airnya dipercaya bisa menyembuhkan penyakit.
Ada sekitar 10 air terjun yang terdapat di daerah Guci. Di bagian atas pemandian umum disebut pancuran 13. Agak jauh sekitar satu kilometer, terdapat air terjun dengan air dingin bernama Air Terjun Jedor. Dinamai begitu karena dulu tempat di sekitar air terjun setinggi 15 meter itu adalah milik seorang Lurah yang bernama Lurah Jedor.
Pemandian pancuran 13 adalah lokasi yang paling banyak dikunjungi orang. Disebut begitu karena memiliki pancuran berjumlah tigabelas buah. Pemandian ini bisa dinikmati siapa saja alias tak bayar. Selain itu, berendam di pancuran tujuh merupakan alternative lainnnya. Di pancuran ini, penduduk desa Guci juga sering mandi entah untuk keperluan mencari berkat maupun untuk menyembuhkan penyakit seperti rematik, koreng atau penyakit kulit lain.
Objek wisata ini biasanya ramai dikunjungi pada malam Jumat Kliwon. Banyak orang yang ngalap berkah. Konon,kalau mandi pada jam dua belas malam dengan memohon sesuatu, permohonan apapun akan dikabulkan. Kepercayaan ini sudah turun-temurun. Jika hanya ingin menikmati pemandangan, Guci menawarkan wisata hutan. Sambil jalan-jalan menikmati pemandangan pepohonan pinus, Anda dapat merasakan kesejukan daerah ini.
Jika tidak berminat untuk jalan-jalan, Anda dapat menyewa kuda untuk berkeliling dan melihat air terjun. Dengan begitu Anda dapat menikmati pemandangan tanpa merasa lelah dan sekaligus bisa belajar menunggang kuda. Bila Anda ingin merasa puas berkeliling di area wisata seluas sekitar 210 hektar ini, Anda dapat menginap di daerah ini selama beberapa hari. Ada banyak penginapan di sini, dari kelas melati sampai berbintang.
Sesungguhnyalah objek wisata ini terletak di kaki Gunung Slamet bagian utara dengan ketinggian kurang lebih 1.050 meter dari kota Slawi sekitar 30 km atau dari kota Tegal berjarak tempuh sekitar 40 km ke arah selatan.  Di tempat wisata ini telah tersedia berbagai macam fasilitas seperti penginapan, wisata hutan (wana wisata), kolam renang air panas, lapangan tennis, lapangan sepak bola, hotel, villa dan bumi perkemahan.
Guci mudah dijangkau dari berbagai daerah. Dari Slawi Anda bisa naik mini bus jurusan Bumi Jawa. Setelah ekitar tiga puluh menit, Anda berhenti di Desa Tuwel. Di situ banyak kendaraan bak terbuka menunggu penumpang menuju Guci. Dari ditu perjalanan tigapuluh menitpun akan mengantar Anda sampai tempat wisata yang sungguh menarik ini.
Guci terletak di kaki gunung slamet bagian utara, dengan ketinggian sekitar 1.500 Meter dari permukaan laut mempunyi udara yang sejuk dengan suhu sekitar 20 drajat celcius.
Cerita tentang guci berawal dari sebuah pedukuhan yang bernama Kaputihan. Kaputihan berarti yang belum tercemar atau masih suci, yang berati daerah keputihan belm tercemar oleh agama dan peradaban lain istilah kaputihan pertama kali yang memperkenalkan adalah Beliau yang dikenal dengan Kyai Ageng Klitik (Kyai Klitik) yang nama sesungguhnya adalah Raden Mas Arya Wiryo Cucu Raden Patah bangsawan dari keraton mataram Ngayogjakarto Hadiningrat adal dari Demak. Setelha beliau Kyai Klitik menetap dan tinggal cukup lama  di lereng Gunung Slamet (Kampung kaputihan) maka banyak warga berdatangan dari tempat lain sehingga kampong kaputihan menjadi ramai. Suatu ketika datanglah Syech Elang Sutajaya utusan Sunan Gunung jati (Syeh Syarif Hidayatullah) dari pesantren Gunung Jati Cirebon untuk Syiar Islam.
Dan kebetulan di kampong Kaputihan sedang terjadi Pageblugk (bencana alam, penyakit merajalela, tanaman diseranghamadsb.) sehingga beliau Elang Sutajaya memohon petunjuk kepada Allah dengan semedi kemudian Allah SWT. memberi petunjuk supaya masyarakat kampung kaputihan meningkatkan iman dan taqwanya kepada Allah SWT. dengan menggelar Tasyakuran, memperbanyak sedekah dan yang terkena wabah penyakit khususnya gatal-gatal agar meminum air dari kendi (Guci) yang sudah didoakan oleh Sunan Gunung Jati. Dalam kesempatan ini pula Sunan Gunung Jati  berkenan mendoakan sumber air panas di Kampung Kaputihan agar bisa dipergunakan untuk menyembuhkan segala penyakit. Semenjak itu karena kendi (guci) yang sudah didoakan sunan gunung jati ditinggal di kampung kaputihan dan selalu dijadikan sarana pengobatan. Maka sejak saat itu masyarakat skitar menyebut-nyebut guci-guci. Sehingga kyai klitik selaku Kepala Dukuh kaputihan merubahnya menjadi desa guci dan beliau sebagai lurah pertamanya.
Guci peninggalan Elang Sutajaya itu berada di museum Nasional setelah pada pemerintahan Adipati bribes Raden Cakraningrat membawanya ke Musium.
Nara Sumber
Tokoh masyarakat dan ulama setempat dari desa guci dan dukuh pekandangan serta daerah di sekitar kec. Bojong dan kec. Bumijawa juga buku-buku literature dari perpustakaan daerah juga buku koleksi pribadi serta dari media internet.
Kami ucapkan terima kasih kepada :
  1. Bapak Imam Santoso beserta seluruh staf pengelola OW guci
  2. Drs. A. Zamzami, M.Hum, Bapak Basuki Rahmat Bapak Khariri dan Seluruh masyarakat dukuh pekandangan dan desa Guci.
KANDUNGAN UNSUR KIMIA
(HASIL ANALISA TIM GEOLOGI STTN – YOGYAKARTA)
AIR PANAS GUCI KAB. TEGAL

NO
UNSUR SENYAWA
GUCI
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
Na +                 =   NATRIUM
K +                   =   KALIUM
Li +                   =  LITIUM
Ca ++               =  CALSIUM
Mg ++               =  MAGNESIUM
Fe +++             =   BESI
As                     =
SIO2                 =
B                      =   BARIUM
HC03                =  GARAM / IODIUM
CL                    =   KLORIUM
SO4                  =  SULFUR
F                       =
NH3                  =
PH                    =
DHL                  =
Umhos/Com
96.00
16.36
02.55
35.00
19.00
00.00
00.66
68.91
03.50
344.43
64.61
48.25
00.30
00.40
06.64
710.00
Keterangan
Selain pH dan DHL, semua dalam mg/It
Sumber data :
Hasil kajian DINAS PERTAMBANGAN DAN ENERGI  Jawa Tengah bekerja sama dengan Sekolah Tinggi Teknologi Nasional (STTN)Yogyakartatahun 2003
PEMERINTAH KABUPATEN TEGAL
DINAS PARIWISATA DAN KEBUDAYAAN
UNIT PELAKSANA TEKNIS DINAS
(UPTD II) OBYEK WISATA GUCI

Visi pembangunan kepariwisataan kab. Tegal
”Mewujudkan pariwisata Kab. Tegal menjadi pilihan utama tujuan wisata”
Misi Pariwisata Kabupaten Tegal
a)       Memberikan pelayanan prima pada wisatawan, memberdayakan mitra kerja dan masyarakat dalam mengembangkan kepariwisataan
b)       Mengembangkan SDM yang berpotensial di bidang pariwisata
c)       Meningkatkan fasilitas sarana prasarana Obyek Wisata yang representif dan memiliki daya tarik wisata sesuai dengan budaya masyarakat.
Potensi Obyek Wisata Guci Kab. Tegal
a.   Pemandian Air Panas Terbuka  :
  • Pancuran 13
  • Pancuran 7
  • Pancuran 5
  • Kolam Renang  (Duta Wisata, Barokah, Mega Indah)
b.   Pemandian Air panas Tertutup
ada 20 kamar Tertutup
C.   Wisata Alam
  • Out Bound
  • Wana Wisata
  • Pendakian Bukit Perkasa
d.   Kuda Wisata
OW. Guci ada 43 kuda wisata terlatih
e.   Hotel
Jumlah Hotel di Obyek Wisata Guci ;
  • Hotel Duta Wisata
  • Hotel Mega Indah
  • Hotel Brahma Lestari
  • Hotel Bukit Indah
  • Hotel Permata Hijau
  • Hotel Guci Mas
  • Hotel Guci Kencana
  • Hotel Janoko
f.    Villa
ada 14 Villa di OW Guci (data terlampir)
g.   Pondok Wisata
yang dimaksud pondok wisata adalah Rumah penduduk yang disewakan untuk pengunjung (data terlampir)
h.   Kios Souvenir
Disediakan Cinderamata produksi hasil Home Industri masyarakat desa Guci yaitu, Manisan Ciremai, Pepaya, Jus Strawbery dll.
i.    Agro Wisata
Di Obyek wisata guci ada berbagai tanaman yaitu :
Kebun Strawbery
Kebun Wortel
Kebun Kubis
j.    Parkir
ada 3 Tempat yaitu ;      1. Pasar (Khusus kendaraan Besar)
                                                2. Terminal atas (Untuk kendaraan kecil)
                                                3. Terminal bawah (untuk kendaraan truk/bus)
k.   Air terjun dan Mata Air
a. Air Terjun Jedor
b. Air Terjun Sruwiti
c. Air Terjun Sigeong
d. Air Terjun Pengantain
e. Air Terjun Kembar
f. Air Terjun Awu
g. Air Terjun Capit Urang
h. Air Terjun Curug Amba
I. Air Terjun Payung
l.    Mata Air (TUK ) ;
  1. Tuk Vagina
  2. Tuk Sengang
  3. Tuk Konyal
  4. Tuk Kesepuhan
  5. Tuk Pengasihan
  6. Tuk Teyeng

Surabaya



Apa yang bisa langsung diingat tentang Jawa Timur?
Tentu saja Surabaya. Selain menjadi ibukota dari propinsi Jawa Timur, Surabaya merupakan kota terbesar kedua setelah Jakarta. Dengan populasi penduduk sekitar 3 juta orang, Surabaya telah menjadi kota Metropolis dengan beberapa keanekaragaman yang kaya di dalam nya. Selain itu, Surabaya saat ini juga telah menjadi pusat bisnis, perdagangan, industri, dan pendidikan di Indonesia.
Surabaya dikenal sebagai Kota Pahlawan, hal ini terjadi sejak adanya pertempuran rakyat Surabaya melawan tentara Belanda dalam revolusi kemerdekaan Indonesia
Nama Surabaya, sesuai dengan etimologinya, berasal dari kata Sura ata Suro dan Baya atau Boyo, dalam bahasa Jawa. Suro adalah jenis ikan hiu, sedang boyo adalah istilah bahasa jawa untuk buaya. Menurut mitos, dua hewan ini adalah binatang paling kuat yang juga menjadi simbol kota Surabaya sampai saat ini. Pendapat lain mengatakan, bahwa nama Surabaya juga diambil dari istilah Sura Ing Baya, yang berarti "berani menghadapi bahaya".
Surabaya merupakan pelabuhan utama dan pusat perdagangan komersial di wilayah timur Indonesia, dan sekarang menjadi salah satu kota terbesa di Asia Tenggara. Bersama dengan Lamongan di barat laut, Gresik di barat, Bangkalan di timur laut, Sidoarjo di selatan, Mojokerto dan Jombang di barat daya menjadi kesatuan yang dinamakan Gerbang Kertosusila, seperti Jabodetabek di Jakarta dan sekitarnya.
Letak kota Surabaya berada di tepi pantai utara Jawa timur, dan berbatasan langsung dengan Selat madura di utara dan timur, Kabupaten Sidoarjo di selatan, dan Kabupaten Gresik di barat. Kota Surabaya berada pada dataran rendah, dengan ketinggian antara 3-6 M di asata permukaan laut, hal ini juga yang menyababkan suhu udara di Surabaya tergolong panas dan kering.
Sebagai ibukota provinsi, Surabaya juga merupakan rumah bagi banyak kantor dan pusat bisnis. Perekonomian Surabaya juga dipengaruhi oleh pertumbuhan baru dalam industri asing dan beberapa segmen industri yang akan terus berkembang, terutama dalam hal properti, dimana gedung pencakar langit, mall, plaza, apartemen dan hotel berbintang akan terus terbangun setiap tahunnya.
Sebagai kota metropolitan, Surabaya dihuni oleh multi etnis dan banyak suku bangsa, seperti warga Tionghoa, suku Jawa, Batak, Madura, Bali, Bugis, Sunda dan banyak lagi. Ada juga warga negara asing termasuk Malaysia, Cina, India, Arab dan Eropa.
Bahasa yang digunakan sehari-hari sebagian besar menggunakan bahasa Jawa, dengan dialek Suroboyoan. Dialek ini cukup berbeda dengan bahasa Jawa dari Jawa Tengah seperti Surakarta atau Yogyakarta. Dialek Suroboyoan memiliki intonasi yang dalam dan tinggi, dan terkesan keras.
Meskipun Surabaya banyak dipengaruhi oleh beragam budaya, tapi keaslian budayanya masih tetap hidup dan berkembang sampai saat ini. Beragam kebudayaan asli itu bisa dilihat dari berbagai acara seperti, kesenian wayang, ludrug, tari remo dan kebudayaan khas Jawa lainnya.
Dari segi pariwisata, layaknya kota yang sarat akan sejarah, Surabaya memiliki beberapa obyek wisata yang bisa dikunjungi yang berhubungan dengan sejarah masa lampau. Ditambah lagi, Surabaya memiliki keanekaragaman kuliner yang selalu dicari oleh wisatawan yang datang, seperti: rujak uleg, rawon, nasi bebek, kupang lontong, longtong balap dan masih banyak lagi.
Tempat Wisata Monumen Pahlawan di Surabaya
Tempat Wisata di Surabaya yang pertama kali harus anda kunjungi adalah Monumen Pahlawna. Kota Surabaya dikenal sebagai Kota Pahlawan. Adapun lokasi monumen ini ada di  Jalan Pahlawan, Kel. Alun-Alun Contong, Kec. Bubutan, Surabaya, Jawa Timur 60175, Indonesia .
Monumen ini mejadi salah satu tempat wisata kebangga masyarakat Surabaya, karena monumen ini mengingatkan perjuangan pahlawan atas perjuangan mereka merebut kemerdekaan dari penjajah.
Dengan tinggi 41,15 meter, tugu dengan bentuk paku terbalik (lingga) memilki lengkungan di badannya (tiang) atau kerap disebut “Canalures”. Cekungan tersebut sebanyak sepuluh lengkungan serta terbagi menjadi sebelas ruas. Sebetulnya, ada makna filosofi di baliknya: tinggi, ruas, dan canalures itu mempunyai makna atau simbol yakni: tanggal 10, bulan ke-11, dan pada tahun 1945; yang secara simbolik merupakan peristiwa berdarah tatkala masa perjuangan kemerdekaan Indonesia.

2. Tempat Wisata patung Buddha dengan Empat Wajah di Surabaya

Jika anda ingin mengunjungi tempat ini, janga lupau ntuk membawa kamera. Tempat inilah yang sangat unik dan bersejarah, mengingat patung yang berada di kota Surabaya ini telah tercatat di Museum Rekor Indonesia (MURI) sebagai patung tertinggi di Indonesia. Jika kita hendak safari bersama keluarga di sini, maka kita hanya perlu menuju ke salah satu sudut di pantai Ria Kanjeran.

3. Tempat Wisata Jembatan Merah di Surabaya

Jembatan merah merupakan saksi bisu perjuangan masyarakat Surabaya melawan kolonial Belanda. tempat ini sebetulnya telah mencatat peristiwa yang luar biasa pada 10 November. Tempat ini (tempat wisata di surabaya dan malang) mengenang tewasnya seorang Jendral atau Brigjen Mallaby yang telah bentrok sengi dengan rakyat Indonesia (yang ini diwakili oleh arek-arek Suroboyo) dengan tentara Belanda di daerah Jembatan Merah.

4. Tempat Wisata Monumen Kapal Selam di Surabaya

Monumen kapal selam ini menarik untuk dikunjungi. Monumen ini sangat relevan (berhubungan) dengan peristiwa KRI Pasopati 410 yang dahulunya merupakan milik TNI sebagai kapal selam angkatan laut Republik Indonesia di wilayah timur.

Tempat wisata sejarah di Surabaya yang harus anda kunjungi adalah museum Mpu Tantular. Museum ini sendiri di bangun oleh lembaga kebudayaan bernama Stedelijk Historisch Museum Soerabaian yang pendirinya merupakan orang Jerman totok namun telah memiliki kewarganegaraan Indonesia (Surabaya). Museum ini sangatlah memilki banyak koleksi yaitu: 15.000 koleksi dengan komposisi peninggalan masa prasejarah, peninggalan Hindhu, Budha, dan Islam, sampai zaman kolonial Belanda atau pun Jepang. Tempat ini bisa menjadi rekomendasi keluarga pada tataran destinasi wisata di sura. Tempat Wisata Kelenteng Hong Tiek Hian di Surabaya

Satu lagi Tempat wisata sejara di Surabaya yang harus anda kunjungi adalah kelenteng Hong Tiek Hian yang diperkirakan dibangun pada oleh pasukan Tartar pada masa tatkala Khu Nilai Khan masih berkuasa di Asia Tengah. Namun untuk kebenarannya belum dapat dipastikan. Namun keindahan artsitek khas negeri tirai bambu bisa kita nikmati.

Tempat Wisata Rumah Batik di Surabaya

Surabaya ternyata juga memiliki tempat pengrajin batik. Selama ini mungkin batik yang terkenal itu berasal dari Pekalongan, tapi ternyata batik dari Surabaya juga tidak kalah indah dan cantiknya. Anda bisa melihat-lihat batik karya masyarakat Surabaya. Tempat ini berlokasi di daerah Jalan Tambak Dukuh No. 4, Surabaya. Dengan koleksinya yang sangat luar biasa, Rumah batik ini memilki koleksi batik sebanyak dua ribu potong batik dengan pelbagai corak maupun motif yang berbeda. Secara nasional, tempat wisata di Surabaya ini telah mendapatkan legitimasi nasional sebagai Rumah Batik terbesar di Surabaya. Tempat ini sangatlah cocok untuk dijadikan objek wisata keluarga yang edukatif.
rakyat Surabaya dikenal dengan kegigihannya melawan penajajahan Belanda. Salah satu tanda hormat pemerintah Surabaya atas perjuangan para pahlawan terutama Batalyon 503 Mayangkara di bawah pimpinan Mayor Djarot Soebyantoro, dibangunlah sebuah taman yang diberi nama Taman Mayangkara. Adapun letak taman ini ada di depan Rumah Sakit Islam (RSI), terdapat monumen Mayor Djarot Soebyantoro menaiki kuda putih Mayangkara. Warga Surabaya biasa menyebut Monumen Mayangkara. Berada di lokasi ini terasa makin nyaman karena seluruh area taman telah berhias warna-warni bunga dan tanaman hias. Bahkan, di sekeliling monument dilengkapi arena untuk jalan-jalan dan sarana untuk memadu keceriaan bersama keluarga.

Sejarah Wisata Ciater



sejarah ciater(sariater pemandian air panas alam)
Pada awalnya Tempat Wisata Air Panas Alam Ciater yang sekarang lebih dikenal dengan sebutan Sari ater Hot Spring Resort adalah Tempat pemandian yang biasa dipergunakan oleh masyarakat sekitar Ciater,Palasari dan Nagrak.
Pada tahun 1968 Pemda Kabupaten Subang melalui PU Kabupaten bekerjasama dengan Dispenda pelahan-lahan mulai menggarap sumber air panas alam ciater sebagai objek wisata.
Sebagai manajer pertama ditetapkan Bapak Sahro dari PU Kabupaten sedangkan jumlah karyawan pada saat itu kurang lebih hanya 11 orang. Pada tahun 1972 PPN DWIKORA IV (sekarang ptpn XIII Ciater) membuat 1 buah bangunan untuk kamar mandi dan pintu gerbang berbentuk joglo yang lengkap dengan kantor dan loket penjualan tiket.
Pada tanggal 20 maret 1974 Pemda TK II Kabupaten Subang menyerahkan pengelolaan Objek Wisata Air Panas Ciater kepada PT.Sari Ater yang dipimpin oleh Bapak H.A SOEWARMA. manajer pertama yang dipercayakan oleh PT.Sari Ater untuk memimpin pengelolaan objek wisata Air panas alam Ciater adalah Bapak Gautama, alm(thn 1974 s/d 1975). Jumalah karyawan yang ada pada saat itu kurang lebih 16 orang dan Seluruh area wisata seluas 7.335 H , yang dikelola dibenahi dan dibuatkan pagar pembatas dari kawat berduri.
Pada Tahun 1976, dimulai pembangunan Restaurant Dayang Sumbi, Bungalows kabayan, sarana parkir dan rekreasi kolam perahu. Pimpinan pada daat itu dipercayakan kepada manager ketiga yaitu Bapak J.R. Iskandar, Alm(tahun 1976 s/d 1977).  Pada tahun 1977 pimpinan usaha dipercayakan kepada Mr.Evandra alias Bapak Muhammad Effendi seorang ahli berkebangsaan italy (tahun 1977 s/d 1979) dan jumlah karyawan telah meningkat menjadi kurang lebih 70 orang.
Pada tahun 1980 mulai pembenahan dan pengembangan sarana dan prasarana secara besar-besaran, pada saat itu dibangun : Kolam Renang bawah atau mayangsari II, Bungalow Jammbu, Area rekreasi sampai curug Jodo. dengan sumber dana dari BAPINDO. manager ke IV yang memimpin saat itu adalah Bapak Anton Tirto (tahun 1979 s/d 1985) sedangkan karyawan berjumlah kurang lebih 100 orang.
Manager ke VI dijabat oleh Bapak Ruby dan pada tahun 1987 pimpinan diserahkan kepada Bapak Herrie Hermanni dengan jabatan sebagai Operational Manager. Pada tanggal 24 oktober 1994 dilakukan Restrukturisasi organisasi dan ditetapkan seorang General Manager untuk memimpin hotel dan objek wisata Sari Ater dengan nama Sari Ater Hot Spring Resort. Sebagai general manager yang pertama ditetapkan Bapak Herrie Hermanni dengan jumlah karyawan pada saat itu 333 orang sedangkan luas kawasan hotel dan objek wisata telah menjadi 32 Ha.
Pada tahun 1998 dibangun kembali satu fasilitas air panas alam di area rekreasi dengan nama Pulosari, dengan daya tampung untuk 500 orang dan diresmikan oleh Bupati tingkat II subang Bapak Drs. H.Abdul Wahyan tepatnya pada tanggal 25 Juli 1998.
Sampai sekarang hotel dan objek wisata air panas alam Sari Ater lebih terkenal dengan sebutan

Sejarah

Prasejarah
Bukti adanya kelompok masyarakat pada masa prasejarah di wilayah Kabupaten Subang adalah ditemukannya kapak batu di daerah Bojongkeding (Binong), Pagaden, Kalijati dan Dayeuhkolot (Sagalaherang). Temuan benda-benda prasejarah bercorak neolitikum ini menandakan bahwa saat itu di wilayah Kabupaten Subang sekarang sudah ada kelompok masyarakat yang hidup dari sektor pertanian dengan pola sangat sederhana.
Selain itu, dalam periode prasejarah juga berkembang pula pola kebudayaan perunggu yang ditandai dengan penemuan situs di Kampung Engkel, Sagalaherang.
Hindu
Pada saat berkembangnya corak kebudayaan Hindu, wilayah Kabupaten Subang menjadi bagian dari 3 kerajaan, yakni Tarumanagara, Galuh, dan Pajajaran. Selama berkuasanya 3 kerajaan tersebut, dari wilayah Kabupaten Subang diperkirakan sudah ada kontak-kontek dengan beberapa kerajaan maritim hingga di luar kawasan Nusantara. Peninggalan berupa pecahan-pecahan keramik asal Cina di Patenggeng (Kalijati) membuktikan bahwa selama abad ke-7 hingga abad ke-15 sudah terjalin kontak perdagangan dengan wilayah yang jauh. Sumber lain menyebutkan bahwa pada masa tersebut, wilayah Subang berada di bawah kekuasaan Kerajaan Sunda. Kesaksian Tome’ Pires seorang Portugis yang mengadakan perjalanan keliling Nusantara menyebutkan bahwa saat menelusuri pantai utara Jawa, kawasan sebelah timur Sungai Cimanuk hingga Islam
Masa datangnya pengaruh kebudayaan Islam di wilayah Subang tidak terlepas dari peran seorang tokoh ulama, Wangsa Goparana yang berasal dari Talaga, Majalengka. Sekitar tahun 1530, Wangsa Goparana membuka permukiman baru di Sagalaherang dan menyebarkan agama Islam ke berbagai pelosok Subang.
Kolonialisme
Pasca runtuhnya kerajaan Pajajaran, wilayah Subang seperti halnya wilayah lain di P. Jawa, menjadi rebutan berbagai kekuatan. Tercatat kerajaan Banten, Mataram, Sumedanglarang, VOC, Inggris, dan Kerajaan Belanda berupaya menanamkan pengaruh di daerah yang cocok untuk dijadikan kawasan perkebunan serta strategis untuk menjangkau Batavia. Pada saat konflik Mataram-VOC, wilayah Kabupaten Subang, terutama di kawasan utara, dijadikan jalur logistik bagi pasukan Sultan Agung yang akan menyerang Batavia. Saat itulah terjadi percampuran budaya antara Jawa dengan Sunda, karena banyak tentara Sultan Agung yang urung kembali ke Mataram dan menetap di wilayah Subang. Tahun 1771, saat berada di bawah kekuasaan Kerajaan Sumedanglarang, di Subang, tepatnya di Pagaden, Pamanukan, dan Ciasem tercatat seorang bupati yang memerintah secara turun-temurun. Saat pemerintahan Sir Thomas Stamford Raffles (1811-1816) konsesi penguasaan lahan wilayah Subang diberikan kepada swasta Eropa. Tahun 1812 tercatat sebagai awal kepemilikan lahan oleh tuan-tuan tanah yang selanjutnya membentuk perusahaan perkebunan Pamanoekan en Tjiasemlanden (P & T Lands). Penguasaan lahan yang luas ini bertahan sekalipun kekuasaan sudah beralih ke tangan pemerintah Kerajaan Belanda. Lahan yang dikuasai penguasa perkebunan saat itu mencapai 212.900 ha. dengan hak eigendom. Untuk melaksanakan pemerintahan di daerah ini, pemerintah Belanda membentuk distrik-distrik yang membawahi onderdistrik. Saat itu, wilayah Subang berada di bawah pimpinan seorang kontrilor BB (bienenlandsch bestuur) yang berkedudukan di Subang.
Nasionalisme
Tidak banyak catatan sejarah pergerakan pada awal abad ke-20 di Kabupaten Subang. Namun demikian, Setelah Kongres Sarekat Islam di bandung tahun 1916 di Subang berdiri cabang organisasi Sarekat Islam di Desa Pringkasap (Pabuaran) dan di Sukamandi (Ciasem). Selanjutnya, pada tahun 1928 berdiri Paguyuban Pasundan yang diketuai Darmodiharjo (karyawan kantor pos), dengan sekretarisnya Odeng Jayawisastra (karyawan P & T Lands). Tahun 1930, Odeng Jayawisastra dan rekan-rekannya mengadakan pemogokan di percetakan P & T Lands yang mengakibatkan aktivitas percetakan tersebut lumpuh untuk beberapa saat. Akibatnya Odeng Jayawisastra dipecat sebagai karyawan P & T Lands. Selanjutnya Odeng Jayawisastra dan Tohari mendirikan cabang Partai Nasional Indonesia yang berkedudukan di Subang. Sementara itu, Darmodiharjo tahun 1935 mendirikan cabang Nahdlatul Ulama yang diikuti oleh cabang Parindra dan Partindo di Subang. Saat Gabungan Politik Indonesia (GAPI) di Jakarta menuntut Indonesia berparlemen, di Bioskop Sukamandi digelar rapat akbar GAPI Cabang Subang untuk mengenukakan tuntutan serupa dengan GAPI Pusat.
Jepang
Pendaratan tentara angkatan laut Jepang di pantai Eretan Timur tanggal 1 Maret 1942 berlanjut dengan direbutnya pangkalan udara Kalijati. Direbutnya pangkalan ini menjadi catatan tersendiri bagi sejarah pemerintahan Hindia Belanda, karena tak lama kemudian terjadi kapitulasi dari tentara Hindia Belanda kepada tentara Jepang. Dengan demikian, Hindia Belanda di Nusantara serta merta jatuh ke tangan tentara pendudukan Jepang. Para pejuang pada masa pendudukan Belanda melanjutkan perjuangan melalui gerakan bawah tanah. Pada masa pendudukan Jepang ini Sukandi (guru Landschbouw), R. Kartawiguna, dan Sasmita ditangkap dan dibunuh tentara Jepang.
Merdeka
Proklamasi Kemerdekaan RI di Jakarta berimbas pada didirikannya berbagai badan perjuangan di Subang, antara lain Badan Keamanan Rakyat (BKR), API, Pesindo, Lasykar Uruh, dan lain-lain, banyak di antara anggota badan perjuangan ini yang kemudian menjadi anggota TNI. Saat tentara KNIL kembali menduduki Bandung, para pejuang di Subang menghadapinya melalui dua front, yakni front selatan (Lembang) dan front barat (Gunung Putri dan Bekasi). Tahun 1946, Karesidenan Jakarta berkedudukan di Subang. Pemilihan wilayah ini tentunya didasarkan atas pertimbangan strategi perjuangan. Residen pertama adalah Sewaka yang kemudian menjadi Gubernur Jawa Barat. Kemudian Kusnaeni menggantikannya. Bulan Desember 1946 diangkat Kosasih Purwanegara, tanpa pencabutan Kusnaeni dari jabatannya. Tak lama kemudian diangkat pula Mukmin sebagai wakil residen. Pada masa gerilya selama Agresi Militer Belanda I, residen tak pernah jauh meninggalkan Subang, sesuai dengan garis komando pusat. Bersama para pejuang, saat itu residen bermukim di daerah Songgom, Surian, dan Cimenteng. Tanggal 26 Oktober 1947 Residen Kosasih Purwanagara meninggalkan Subang dan pejabat Residen Mukmin yang meninggalkan Purwakarta tanggal 6 Februari 1948 tidak pernah mengirim berita ke wilayah perjuangannya. Hal ini mendorong diadakannya rapat pada tanggal 5 April 1948 di Cimanggu, Desa Cimenteng. Di bawah pimpinan Karlan, rapat memutuskan : 1.Wakil Residen Mukmin ditunjuk menjadi Residen yang berkedudukan di daerah gerilya Purwakarta. 2.Wilayah Karawang Timur menjadi Kabupaten Karawang Timur dengan bupati pertamanya Danta Gandawikarma. 3.Wilayah Karawang Barat menjadi Kabupaten Karawang Barat dengan bupati pertamanya Syafei. Wilayah Kabupaten Karawang Timur adalah wilayah Kabupaten Subang dan Kabupaten Purwakarta sekarang. Saat itu, kedua wilayah tersebut bernama Kabupaten Purwakarta dengan ibukotanya Subang. Penetapan nama Kabupaten Karawang Timur pada tanggal 5 April 1948 dijadikan momentum untuk kelahiran Kabupaten Subang yang kemudian ditetapkan melalui Keputusan DPRD No. : 01/SK/DPRD/1977.
Banten adalah wilayah kerajaan Sunda.


Kawah Putih Bandung



Kawah Putih Ciwidey – Tempat wisata alam bandung di daerah wisata Ciwidey, kabupaten  Bandung ( selatan ) yang sangat eksotis ini yaitu Kawah Putih Ciwidey, dan menjadi salah satu Favorit buruan para pecinta suasana alam pegunungan dan kesejukan udara dengan keheningan alamnya.Hanya untuk bisa merasakan sensasi eksotis dan romantisme alam sekitar kawah yang super elok dan indah,maka tak heran apabila setiap akhir pekan apalagi waktu liburan tiba, maka sebuah kawah di kawasan wisata ciwidey ini, tepatnya di pegunungan Patuha ,hampir pasti selalu ramai dan dipadati pengunjung atau wisatawan baik asal Bandung sendiri maupun luar daerah juga mancanegara.
Dan untuk mengetahui info Tempat Wisata Di Bandung yang bernama Kawah Putih di Ciwidey ,mari kita simak artikel berikut di bawah ini.
Bandung Selatan merupakan sebuah danau alam yang terbentuk dari letusan Gunung Patuha beberapa ratus tahun yang lalu.Tanah di kawasan kawah ini karena  bercampur dengan belerang menjadikannya berwarna putih.Sementara air yang berada di kawah gunung Patuha ini berwarna putih kehijauan,dan yang menjadi keistimewaan khusus bagi para wisatawan yang berkunjung ke lokasi wisata alam yang menakjubkan ini,terkadang air di kawah putih ini bisa berubah warna pada suatu waktu tertentu.Kawah Putih ini berada pada ketinggian lebih dari 2090 m dpl,dibawah puncak tertinggi Gunung Patuha di Ciwidey ini.
Sejarah Kawah Putih Ciwidey
Kawah Putih Ciwidey Pertama kali ditemukan pada abad 19 oleh seorang peneliti berkebangsaan Belanda yang bernama Junghun.Sebelum kedatangan dan penemuan tempat kawah putih ini,Keangkeran serta hal mistik yang sangat begitu kuat tertanam di dalam pemahaman masyarakat sekitar waktu itu membuat penduduk sekitar menyebutnya sebagai tempat dimana arwah para leluhur bersemayam,dan tidak akan ada seorangpun yang berada disana tanpa meregang nyawa, yang burung pun enggan terbang diatasnya.
Mitos dan Sejarah Kawah Putih Ciwidey Bandung di zaman sekarang sudah sangat jauh berbeda,tempat eksotis ini telah menjadi daya tarik tersendiri bagi setiap wisatawan yang pernah berkunjung ke sini,sehingga siapa pun akan seperti terpanggil datang kembali untuk menikmati kecantikan alam pegunungan maha indah ini.Setiap
bagian lokasi serta sudut kawasan kawah putih Ciwidey seperti memberikan inspirasi bagi siapa pun untuk mengabadikannya keindahannya,tak terkecuali bagi para Photografer.Dan sekarang lokasi wisata kawah putih ini pun menjadi tempat Favorit buat para pasangan yang akan menikah untuk melakukan sesi foto PreWedding.
Fakta bahwa wisatawan memberikan penilaian itu sebagai kawasan yang eksotis dan Fantastis karena ketinggian tempat dan keheningannya yang menyelimuti lokasi Wisata di Bandung selatan ini.Pada setiap tahun tepatnya diantara bulan juli dan agustus,suhu udara di kawasan wisata bisa tembus turun dibawah 5 derajat Celcius pada malam hari dan 10 derajat Celcius di waktu siang hari,sehingga hal ini bisa memaksa para wisatawan yang berkunjung di lokasi ini tak akan kuat bertahan lama karena saking dinginnya angin dari puncak Gunung Patuha yang bisa sampai menembus tebalnya jaket yang mereka pakai.
Pesona keindahan alam Kawah Putih yang merupakan Tempat wisata yang menarik di Bandung ini,sepertinya sudah menjadi sumber utama daya tarik para wisatawan yang berkunjung ke tempat di daerah Ciwidey ini.Selain wisatawan domestik yang setiap akhir pekan selalu penuh mengunjungi kawasan wisata ini,ternyata di saat tertentu banyak juga wisatawan luar negeri terutama berasal dari Malaysia atau negara lainnya baik Asia,Australia,Eropa dan Amerika yang sengaja datang jauh-jauh,hanya karena ingin merasakan dan menikmati maha karya sang pencipta ini.Suasana Keheningan tempat wisata kawah putih,sepertinya bisa menjadikan obat penenang bagi setiap wisatawan dari rutinitas kehidupan yang penat dan panas,sehingga bisa memberikan rasa Rileks dalam diri ketika merasakan getaran keindahan alam yang ditawarkan oleh Kawah Putih ini.

Alamat Kawah Putih Ciwidey Bandung

Kawasan  ini berlokasi di Jalan Raya Soreang Ciwidey,atau tepatnya kurang lebih sekitar 26 Km dari ibukota kabupaten Bandung selatan Soreang.Dan untuk mencapai lokasi wisata ini tidaklah sangat terlalu sulit,dikarenakan lokasinya yang gampang ditempuh serta dapat ditempuh dengan menggunakan berbagai jenis kendaraan baik umum maupun pribadi.
Tiket Masuk Kawah Putih Ciwidey
Berikut adalah harga tiket masuk kawah putih Ciwidey  2015 :
  • wisatawan lokal Rp.18.000
  • wisatawan Asing Rp.50.000
Harga tersebut belum termasuk Tiket ontang-anting atau kendaraan yang mengantarkan wisatawan dari pintu masuk ke lokasi Kawah Putih sebesar Rp.15.000/orang baik untuk wisatawan lokal maupun wisman.
Demikianlah sepenggal kisah Tempat Wisata Di Bandung, cerita dibalik keagungan maha karya-Nya yang bernama Kawah Putih Ciwidey,semoga dengan gambaran fakta tersebut,bisa menjadi alternatif rujukan tempat berlibur bagi anda bersama pasangan atau keluarga,untuk berkunjung ke tempat eksotik dan luar biasa ini untuk menikmati sejuta pesona dari ” Surga Bumi Parahyangan”