Thursday, June 2, 2016

Kebun Wisata Ragunan



Taman Margasatwa Ragunan didirikan pada tanggal 19 September tahun 1864 di Batavia ( kini Jakarta ) dengan nama “Planten en Dierentuin” ini pertama kali di kelola oleh perhimpunan penyayang Flora dan Fauna Batavia (Culture Vereniging Planten en Dierentuin at Batavia ).
Taman ini berdiri di atas lahan seluas 10 hektar di Jalan Cikini Raya No 73 yang di hibahkan oleh Raden Saleh, pelukis ternama di Indonesia.
1864


1949
Setelah Indonesia Merdeka, pada tahun 1949 namanya di ubah menjadi Kebun Binatang Cikini.
Dengan perkembangan Jakarta, Cikini menjadi tidak cocok lagi untuk peragaan satwa. Pada tahun 1964. Pada masa Gubernur DCI Jakarta Dr. Soemarno dibentuk Badan Persiapan Pelaksanaan Pembangunan Kebun Binatang untuk memindahkan dari Jl. Cikini Raya no 73 Ke Pasar Minggu Jakarta Selatan yang diketuai oleh Drh. T.H.E.W. Umboh. , Pemerintah DKI Jakarta menghibahkan lahan seluas 30 ha di Ragunan , Pasar Minggu. Jaraknya kira-kira 20 Km dari pusat kota. Kepindahan dari Kebun Binatang Cikini ke Ragunan membawa lebih dari 450 ekor satwa yang merupakan sisa koleksi terakhir dari Kebun Binatang Cikini.
Kebun Binatang Ragunan dibuka secara resmi pada 22 Juni 1966 oleh Gubernur DKI ( Daerah Khusus Ibukota ) Jakarta Mayor Jenderal Ali Sadikin dengan nama Taman Margasatwa Ragunan.
1966
1974
Pada tahun 1974 Taman Margasatwa Ragunan dipimpin oleh Benjamin Galstaun direktur pertama waktu itu.
Pada tahun 1983 berubah namanya menjadi Badan Pengelola Kebun Binatang Ragunan
1983
2001
Pada tahun 2001 berubah lagi menjadi Kantor Taman Margasatwa Ragunan
Tahun 2009 berubah menjadi UPT ( Unit Pelayanan Teknis ) Taman Margasatwa Ragunan.
2009
2010
Pada tahun 2010 namanya berubah menjadi BLUD ( Badan Layanan Umum Daerah ) Taman Margasatwa Ragunan. Saat ini luas Taman Margasatwa Ragunan mencapai 147 Hektar dengan koleksi satwa 2101 ekor satwa dari 220 spesies.
Pada Tahun 2015 BLUD Taman Margasatwa Ragunan berubah namanya menjadi Kantor Pengelola Taman Margasatwa Ragunan sesuai dengan Perda Nomor 12 Tahun 2014 tentang Organisasi Perangkat Daerah.
Ingin merencanakan  murah dan mendidik untuk anak Anda? Kebun Binatang Ragunan merupakan salah satu alternatif untuk Anda. Terletak di Pasar Minggu, Jakarta Selatan. Kita dapat mengenalkan berbagai macam binatang kepada anak-anak sehingga mereka dapat melihat secara langsung binatang-binatang yang mungkin selama ini hanya dilihat di televisi atau pada buku.

Untuk mencapai tempat ini, apabila Anda tidak menggunakan kendaraan pribadi, Anda dapat menggunakan TransJakarta (busway) jurusan Kuningan-Ragunan yang berakhir tepat di depan kebun binatang ini, atau bila Anda tidak langsung menggunakan jurusan ini, Anda dapat transit dahulu ke halte Dukuh Atas untuk kemudian menggunakan jalur ini. Jadi dengan ongkos Rp 3.500,- Anda dapat menuju Ragunan dengan mudah dan cepat.
Tiket masuk kebun binatang ini dapat Anda beli seharga Rp 4.000,- untuk orang dewasa dan Rp 3.000,- untuk anak-anak. Binatang-binatang yang ada disini cukup lengkap seperti berbagai macam unggas(burung pelikan, merak, elang, dan lainnya), berbagai primata (kera, bekantan, dan lainnya), berbagai jenis ular, beruang madu, gajah, rusa, unta, kudanil, banteng, kelelawar. Untuk binatang buas, Anda dapat melihat harimau, harimau putih, singa, buaya, beruang. Selain melihat binatang, Anda juga dapat mengajak anak Anda bermain di taman bermain anak, dimana ada berbagai macam permainan dan aneka permainan dari balon.
Di kebun binatang ini juga terdapat "Pusat Primata Schmutzer". Anda diharuskan membeli tiket seharga Rp 5.000,- untuk masuk ke tempat tersebut. Tempat ini khusus menampilkan berbagai macam primata dengan suasana yang berbeda dan terdapat museum primata untuk menambah pengetahuan anak-anak. Pertama kali masuk, kita harus menaiki tangga, kemudian dari atas kita dapat melihat gorila dengan ukuran sebesar manusia. Primata lain yang ada disini antara lain siamang, simpai, kera putih, dan berbagai jenis lainnya.
Ada juga "Dunia Orang Utan", disini kita memasuki terowongan panjang dan gelap yang dibuat menyerupai goa, dimana antara tiap-tiap bagian dipisahkan oleh tali-tali yang menyerupai akar pohon. Pada sisi-sisi terowongan di bagian tertentu akan nampak kaca tebal sehingga kita dapat melihat orang utan yang berada di luar.
Setelah keluar dari terowongan, kita dapat menaiki rumah pohon yang tinggi atau berjalan diantara pohon melewati jembatan gantung. Di bagian lain, terdapat taman bali. Tempat ini dibuat menyerupai suasana bali. Ada juga tempat bermain untuk anak seperti ayunan, batang pohon yang dapat dipanjat, bergelantung di tali atau bermain pasir.
Bila Anda merencanakan ke tempat ini, hendaknya membawa persediaan air minum yang cukup, karena untuk melihat binatang yang satu dan yang lain Anda harus berjalan kaki. Sediakan juga topi atau payung untuk melindungi dari sinar matahari. Jadi, untuk liburan tidak berarti harus mengeluarkan banyak uang.

Wednesday, June 1, 2016

Ambon Wisata



ASAL mulanya Pulau Ambon, Kepulauan Lease, Pulau Manipa, Ambalau, Kelang dan Pulau Buano tidak berpenghuni. Pulau-pulau yang dihuni oleh manusia adalah Seram dan Buru. Orang-orang tersebut tinggal di gunung-gunung dan dikenal sebagai orang-orang Alifuru. Oleh orang Ambon mereka diakui sebagai penduduk asli pulau Seram.

Menurut hikayat leluhur di pulau Ambon orang-orang yang pertama kalinya mendiami Pualu Ambon datang secara bertahap. Mereka itu berasal dari pulau Jawa, Seram dan Pulau Halmahera. Hal ini diceriterakan oleh 3 orang tokoh yang berasal dari jazirah Leihitu yaitu Imam Rijali dari desa (dulu disebut begeri) Hitu. Orang Kaya (jabatan sebagai pembantu raja) dari desa Hila dan Raja Hitu Lama dari desa Hitulama.

HIKAYAT KEDATANGAN ORANG-ORANG KE PULAU AMBON
 (BAGIAN 1)

(Ceritera Imam Rijali)

PADA mulanya orang-orang pertama yang datang ke pulau Ambon berasal dari pesisir teluk Tanunu di Pulau Seram. Rombongan pertama dipimpin oleh Pati Selang Binaur. Dalam perjalanan ke Ambon mereka tiba di pantai negeri Hitulama dan menetap di gunung Paunusa.

Rombongan kedua yang datang dari pulau jawa. Konon diceriterakan bahwa pada waktu itu Raja Tuban di Jawa Timur berselisih dengan saudara-saudaranya masing-masing Kiai Tuli, Kiai Daud dan Nyai Mas. Akibat perselisihan yang tidak dapat diselesaikan lagi maka berangkatlah ketiga orang bersaudara itu dengan pengikutnya meninggalkan Tuban. Mereka berlayar menuju ke Timur dan sampailah mereka di Jazirah Hitu dan membuang sauh atau jangkar di pelabuhan Husekaa.

Orang petama turun dari perahu adalah Kiai Tuli. Dengan beberapa orang pengikutnya ia berkeliling untuk melihat-lihat kalau-kalau ada orang di tempat itu. Setelah menanti beberapa saat di tepi pantai ternyata tidak Nampak seorangpun yang ada hanya seekor anjing. Kiai Tuli menyuruh menangkap anjing itu dan pada lehernya digantungkan beberapa jenis buah-buahan yang mereka bawa dari pualu Jawa. Anjing itu kemudian dilepaskan dan binatang itu masuk ke dalam hutan.

Tidak lama kemudian anjing itu datang lagi dan pada lehernya tergantung pula buah-buahan yang lain. Berkatalah Kiai Tuli; “daerah ini ada penghuninya marilah kita mengikuti anjing ini mengantar kita kepada tuannya agar kita dapat berkenalan.” Rombongan Kiai Tuli berjalan mengikuti anjing itu masuk hutan.

Dalam perjalanan bertemulah mereka dengan seorang laki-laki dan ditunjuklah laki-laki itu agar bersedia mengantar mereka menuju tempat kediamannya. Mula-mula ia menolak namun setelah dibujuk-bujuk akhirnya ia bersedia mengantarkan rombongan Kiai Tuli menuju negerinya (perkampungan). 

Rombongan Kiai Tuli diantar menghadap Pati Selang Binaur dan diterima dengan baik oleh penduduk di sana. Akhirnya tinggallah kedua suku bangsa itu di Pulau Ambon dengan rukun dan damai.

Diceriterakan bahwa orang-orang (rombongan) ketiga yang datang ke pulau Ambon berasal dari Pulau Halmahera. Raja Halmahera memiliki dua isteri. Isteri pertama berasal dari Halmahera dan isteri kedua berasal dari Pulau Jawa. Masing-masing isteri telah memiliki seorang putera sehingga di kerajaan ini telah ada dua calon pengganti raja.

Ketika raja meninggal timbullah perselisihan di antara kedua saudara itu memperebutkan tampuk pemerintahan ayah mereka. Ternyata secara diam-diam sebelum raja meninggal ia telah menulis sebuah surat wasiat yang isinya menunjuk bahwa puteranya dari isteri pertama yang berhak menggantikannya sebagai raja di Halmahera sedangkan adiknya ditunjuk menjadi raja di kerajaan Bacan yang merupakan wilayah kekuasaan Halmahera.

Sang adik tidak puas dengan keputusan ayahnya timbulah peperangan di antara kedua saudara tadi. Walaupun dalam peperangan itu adik berhasil menghancurkan kerajaan Halmahera dan menaklukkan kakaknya, ia tidak menetap di Bacan tetapi bersama rombongan berlayar menuju ke Seletan yaitu ke Pulau Ambon.

Di tengah perjalanan beberapa orang pengikut anak raja memisahkan diri. Ada sebagaian menuju pulau Buru dan ada lagi yang menuju ke pulau Seram. Mereka yang menuju Seram akhirnya menetap di sana setelah mengawinkan salah seorang puteri dari rombongannya dengan penguasa Seram di negeri Lisabatta dan menjadi Orang Kaya (pembantu raja) di sana.

Adapun rombongan putera raja melanjutkan perjalanan ke Ambon. Ketika melewati tanjung Sial di Pulau Seram ia memerintahkan salah seorang pengikutnya yang bernama Sablat untuk turun dan tinggal di negeri Waiputih. Sablat kemudian menjadi Orang Kaya pertama di Waiputih. 

Rombongan putera raja melanjutkan perjalanannya sampai di Pulau Ambon dan mendarat di pantai Hitu kemudian mendirikan sebuah negeri baru.

Rombongan keempat yang datang di pulau Ambon adalah dari Negeri Gorom di Seram Timur. Dikisahkan pada waktu itu di Gorom hiduplah seorang laki-laki yang bernama Kiai Patih. Mula-mula ia tinggal di Kaitetu dekat tanjung Nukuhali. Pada suatu hari datanglah sebuah perahu nelayan ke Kaitetu milik Perdana Djamilu. Rombongan nelayan ini bertemu dengan Kiai Patih. 

Sekembalinya mereka ke Gorom pertemuan mereka dengan Kiai Patih di laporkan kepada Perdana Djamilu dan hal ini membuat Perdana Djamilu ingin bertemu dengan Kiai Patih. Beberapa hari kemudian berangkatlah Perdana Djamilu ke pulau Ambon menuju Kaitetu.

Setelah beberapa hari berlayar, tibalah Perdana Djamilu di pantai bertemu dengan Kiai Patih yang hendak berlayar. Bertanyalah Perdana Djamilu kepada Kiai Patih; “dari manakah saudara datang dan hendak kemanakah saudara pergi?” Kiai Patih dengan tenang menjawab bahwa ia dan pengikut-pengikutnya hendak menuju Gorom. Tawaran ini disetujui oleh Kiai Patih maka berangkatlah dua rombongan itu. Setelah tibadi Gorom, Perdana Djamilu mengawinkan puterinya dengan Kiai Patih.


Ceritera Raja Hitulama

RAJA Hitulama membeberkan tuturan kisah kedatangan orang-orang pertama di Pulau Ambon yang dikemukakan oleh Imam Rijali maupun orang Kaya Hila. Menurutnya orang-orang yang pertama tiba di Pulau Ambon berasal dari pulau Seram yang dipimpin oleh Pati Selang Binaur. Rombongan singgah di pantai Hitu dan seterusnya menetap di sana. Sampai sekarang orang-orang Hitu Lama tetap mengenal ceritera ini.


Raja Hitulama Kila-Keli adalah turunan dari Pati Kawa dari kerajaan Tuban menceriterakan kisah ini demikian: Alkisah Raja Tuban mempunyai enam orang putera dan seorang puteri yang bernama Nyai Mas. Pada suatu hari raja Tuban menyuruh putera bungsu yang bernama Paturi mengambil air dari kendi pusaka miliknya, tetapi tanpa sengaja ia memecahkan kendi pusaka itu sehingga raja menjadi murka.

Paturi kecewa dan ia memohon kepada ibunya supaya diberi izin meninggalkan istananya pergi merantau. Ibunya sangat sedih, ketika mendengar niat anaknya yang tidak dapat lagi dicegah. Berangkatlah Paturi meninggalkan ibunya. Paturi berjalan menuju pantai dan ketika sampai disana duduklah ia diatas pasir. Paturi kemudian berdoa dan berkata bila ia betul-betul keturunan anak raja Tuban, biarlah saat ini ada perahu yang akan membawanya berlayar jauh. Tiba-tiba naiklah dari dalam laut sebuah perahu lengkap dengan peralatannya seperti yang digambarkan oleh Paturi.

Beberapa saat kemudian datanglah utusan dari kedua saudara Pati Kawa dan Nyai Mas memanggilnya pulang tetapi putera bungsu ini tetap bersikeras untuk tidak mau kembali ke rumah. Ia bahkan berkata kepada utusan kedua saudaranya itu bahwa ia sudah siap berangkat meninggalkan Tuban dengan perahunya. Kembalilah utusan itu dan mengabarkan berita tersebut kepada Pati Kawa dan Nyai Mas. Mendengar hal ini keduanya berkemas menuju pantai mnemui saudara bungsunya. Mereka juga ingin berlayar meskipun belum tahu kemana arah tujuan yang akan dituju. Dengan menyiapkan bekal berlayarlah kakak beradik itu. Ketika perahu meninggalkan Tuban sepakatlah mereka untuk berlayar ke arah Timur.

Beberapa waktu kemudian tibalah mereka di Pulau Manipa dekat pulau  Buru. Di Manipa turunlah beberapa orang anak buah perahu untuk tinggal di sana. Mereka yang tinggal mendirikan sebuah negeri baru yang dinamakan Tuban sesuai dengan nama asal daerah mereka. Selanjutnya rombongan terus berlayar menuju ke sebuah negeri di jazirah Hitu, yaitu Negeri Lima. Di sana beberapa orang anak buah perahu menetap dan menjadi anak negeri.

Perjalananpun dilanjutkan dan kini tiba di pantai Hitu. Ketika sedang beristirahat di pantai Hitu, turunlah ke darat dua orang anak buah perahu yaitu Tukang dan Sopalio untuk tinggal di sana. Beberapa bulan kemudian tersiarlah berita bahwa kedua orang itu telah diangkat menjadi penasehat di negeri Latea.

Perahu beserta rombongan yang tersisa melanjutkan pelayarannya dan singgah di pantai Hutumuri. Tiba di pantai Hutumuri beberapa dari anak buah perahu turun lagi ke darat untuk mengambil kayu di hutan tetapi mereka juga tidak kembali lagi, sebab telah tinggal membangun sebuah pemukiman baru. Raja pertama di negeri yang baru itu adalah Pati Tunawa.

Perjalanan kembali dilanjutkan dan perahu singgah di pantai pasir Putih negeri Tial dan Negeri Suli. Raja pertama di Pasir Putih adalah Lillobessy dan seorang lain di Suli (namanya tak diketahui). Tiga saudara kandung itu terus melanjutkan perjalanan dan pada suatu hari tibalah mereka di negeri Hatusua (pesisir selatan Seram). Di sini ada lagi anak buah kapal yang turun ke darat dan tidak kembali; yaitu Toma Ela Pelu dan Tahalele yang akhirnya menjadi kepala soa di Mataulu Hulang sebuah Hatusua.

Dari Hatusua perahu terus berlayar dan membuang jangkar di pantai jazirah Hitu. Ketika Pati Kawa naik ke darat bertemulah ia dengan seekor anjing. Anjing itu ditangkapnya dan pada leher binatang itu Pati Kawa menggantungkan bungkusan kecil berisi bawang, lada dan garam dan membiarkan anjing itu masuk ke dalam hutan. Beberapa lama kemudian binatang itu kembali lagi ke pantai dan pada lehernya terkait buah-buahan seperti pisang, jambu dan langsat.

Anjing itu ditangkap oleh seorang inang pengasuh dari Paturi yang bernama Besi selanjutnya menetap di situ setelah mendapat izin dan Tomuwolon raja negeri itu. 
Mengisi liburan bersama keluarga memang menjadi hal yang sangat menarik dilakukan, terlebih bagi anda yang terlalu disibukkan dengan berbagai aktivitas rutin yang membuat anda bosan atau bahkan stress. Namun, menentukan tujuan wisata ternyata juga bukan hal yang mudah karena tentu banyak pilihan tempat yang menarik untuk anda kunjungi. Salah satu tempat yang tak mau ketinggalan adalah tempat wisata di Kota Ambon, di mana meskipun belum sepopuler di tempat wisata lain, Ambon pun juga tak kalah menarik untuk menjadi tujuan wisata karena pada dasarnya potensi wisata di daerah tersebut juga cukup bagus.
Bagi anda yang saat ini tinggal di Ambon, mungkin sudah membuktikan betapa indahnya kota ini. Namun, wajar jika anda yang belum pernah meluangkan waktu untuk datang ke daerah ini masih merasa sedikit sanksi. Tak perlu khawatir karena anda dapat terlebih dahulu mencari info terkait daerah tersebut sehingga anda pun tidak akan mengorbankan liburan anda.
Adapun beberapa tempat wisata di Ambon yang dapat anda jadikan alternatif pilihan ketika berkunjung ke daerah ini yaitu:
1. Pulau Pombo

Bagi anda yang suka dengan wisata alam, pulau Pombo dapat menjadi pilihan anda. Di tempat wisata ini anda akan disambut dengan pemandangan alam yang menakjubkan dan anda pun dapat menikmati wisata laut yang tidak akan membuat anda melupakannya. Pemandangan bawah laut dengan air yang jernih, diikuti dengan pesona terumbu karang yang indah akan membuat liburan anda semakin mengesankan. Pulau yang masih jarang disentuh manusia ini hanya memiliki luas 4 kilometer persegi saja.
2. Monumen Patung Martha Christina

Monumen ini didirikan di Ambon sebagai bentuk penghargaan terhadap jasa pahlawan wanita yang berasal dari Ambon yaitu Martha Christina Tiahahu. Beliau melakukan aksi mogok makan dan kemudian jasadnya dibuang ke laut. Nah, bagi anda yang tertarik melakukan wisata budaya, monumen ini dapat menjai alternatif pilihan wisata untuk anda. Monumen ini terletak di bukit Karang Panjang, terlihat jelas dari pusat Kota Ambon.
3. Pantai Lelisa
di Ambon pun tidak kalah menarik jika dibandingkan dengan pulau Bali ataupun Lombok yang notabene memiliki keindahan pantai yang luar biasa. Jika anda melakukan liburan ke Ambon, sempatkan untuk berkunjung ke pantai Lelisa untuk sejenak merasakan udara pantai. Letak pantai ini sangat dekat dengan Pantai Santai dan Pantai Namalatu. Di Pantai Lelisa anda akan disuguhi pemandangan batu karang yang berjejer hingga ke tepi pantai, pemandangan ini akan semakin jelas terlihat jika air laut sedang surut.
4. Masjid Wapaue

Selain memiliki wisata alam yang menarik, Kota Ambon ternyata juga dapat menjadi tempat untuk melakukan wisata religi. Anda dapat mengujungi masjid Wapaue yang terletak di dekat Gunung Wawane sebelah utara Kota Ambon. ini memang sudah cukup tua karena sudah dibangun sejak tahun 1414.
5. Pantai Felawatu
Jika anda tidak cukup puas dengan pantai Lelisa, anda juga dapat memasukkan pantai Felawatu sebagai salah satu tujuan wisata anda. Pantai ini terletak sekitar 15 km dari pusat kota Ambon ke arah selatan ke desa Latulahat. Pantai ini pun akan membuat anda merasa rileks dengan pemandangan alam yang mengesankan.
6. Pantai Pintu Kota

Satu lagi pantai yang cukup unik di Kota Ambon adalah Pantai Pintu Kota. Pantai ini dikenal unik karena di pantai ini anda bisa menyaksikan tebing terjal batu karang yang berlobang di tengahnya, mirip seperti gapura (pintu masuk). Pantai ini memang banyak sekali batu karang, sedikit sekali anda bisa menjumpai pasir pantai di sini. Tapi hal inilah yang menjadi daya tarik tersendiri Pantai Pintu Kota ini.
7. Monumen Pattimura

Tempat wisata ini dibangun untuk menghormati jasa pahlawan nasional dari Maluku yaitu Thomas Matulessy. Monumen ini dibangun tepat dekat dengan lapangan olahraga, dan saat ini memang cukup ramai dengan pengunjung. Tertarik untuk melakukan wisata budaya? Tidak ada salahnya jika anda menyempatkan waktu untuk singgah ke monumen ini.
Memang sangat banyak yang dapat anda kunjungi untuk mengisi liburan anda. Mulai dari wisata alam, budaya dan bahkan religi pun dapat anda lakukan hanya di satu daerah yaitu Ambon. Cukup menarik bukan? Selamat liburan dan semoga uraian di atas dapat membantu anda mendapatkan informasi tentang tempat wisata di Ambon.

Gorontalo Wisata



Sejarah

Menurut sejarah, Jazirah Gorontalo terbentuk kurang lebih 400 tahun lalu dan merupakan salah satu kota tua di Sulawesi selain KotaMakassar, Pare-pare dan Manado. Gorontalo pada saat itu menjadi salah satu pusat penyebaran agama Islam di Indonesia Timur yaitu dari Ternate, Gorontalo, Bone. Seiring dengan penyebaran agama tersebut Gorontalo menjadi pusat pendidikan dan perdagangan masyarakat di wilayah sekitar seperti Bolaang Mongondow (Sulut), Buol Toli-Toli, Luwuk Banggai, Donggala (Sulteng) bahkan sampai ke Sulawesi Tenggara.Gorontalo menjadi pusat pendidikan dan perdagangan karena letaknya yang strategis menghadap Teluk Tomini (bagian selatan) dan Laut Sulawesi (bagian utara).
Kedudukan Kota Kerajaan Gorontalo mulanya berada di Kelurahan Hulawa Kecamatan Telaga sekarang, tepatnya di pinggiran sungai Bolango. Menurut Penelitian, pada tahun 1024 H, kota Kerajaan ini dipindahkan dari Keluruhan Hulawa ke Dungingi Kelurahan Tuladenggi Kecamatan Kota Barat sekarang. Kemudian dimasa Pemerintahan Sultan Botutihe kota Kerajaan ini dipindahkan dari Dungingi di pinggiran sungai Bolango, ke satu lokasi yang terletak antara dua kelurahan yaitu Kelurahan Biawao dan Kelurahan Limba B. Dengan letaknya yang stategis yang menjadi pusat pendidikan dan perdagangan serta penyebaran agama islam maka pengaruh Gorontalo sangat besar pada wilayah sekitar, bahkan menjadi pusat pemerintahan yang disebut dengan Kepala Daerah Sulawesi Utara Afdeling Gorontalo yang meliputi Gorontalo dan wilayah sekitarnya seperti Buol ToliToli dan, Donggala dan Bolaang Mongondow.
Sebelum masa penjajahan keadaaan daerah Gorontalo berbentuk kerajaan-kerajaan yang diatur menurut hukum adat ketatanegaraan Gorontalo. Kerajaan-kerajaan itu tergabung dalam satu ikatan kekeluargaan yang disebut "Pohala'a". Menurut Haga (1931) daerah Gorontalo ada lima pohala'a :
  • Pohala'a Gorontalo
  • Pohala'a Limboto
  • Pohala'a Suwawa
  • Pohala'a Boalemo
  • Pohala'a Atinggola
Dengan hukum adat itu maka Gorontalo termasuk 19 wilayah adat di Indonesia. Antara agama dengan adat di Gorontalo menyatu dengan istilah "Adat bersendikan Syara' dan Syara' bersendikan Kitabullah". Pohalaa Gorontalo merupakan pohalaa yang paling menonjol diantara kelima pohalaa tersebut. Itulah sebabnya Gorontalo lebih banyak dikenal. Asal usul nama Gorontalo terdapat berbagai pendapat dan penjelasan antara lain :
  • Berasal dari "Hulontalangio", nama salah satu kerajaan yang dipersingkat menjadi hulontalo
  • Berasal dari "Hua Lolontalango" yang artinya orang-orang Gowa yang berjalan lalu lalang.
  • Berasal dari "Hulontalangi" yang artinya lebih mulia.
  • Berasal dari "Hulua Lo Tola" yang artinya tempat berkembangnya ikan Gabus.
  • Berasal dari "Pongolatalo" atau "Puhulatalo" yang artinya tempat menunggu.
  • Berasal dari Gunung Telu yang artinya tiga buah gunung.
  • Berasal dari "Hunto" suatu tempat yang senantiasa digenangi air
Jadi asal usul nama Gorontalo (arti katanya) tidak diketahui lagi, namun jelas kata "hulondalo" hingga sekarang masih hidup dalam ucapan orang Gorontalo dan orang Belanda karena kesulitan dalam mengucapkannya diucapkan dengan Horontalo dan bila ditulis menjadi Gorontalo.
Pada tahun 1824 daerah Limo Lo Pohalaa telah berada di bawah kekusaan seorang asisten Residen disamping Pemerintahan tradisonal. Pada tahun 1889 sistem pemerintahan kerajaan dialihkan ke pemerintahan langsung yang dikenal dengan istilah "Rechtatreeks Bestur". Pada tahun 1911 terjadi lagi perubahan dalam struktur pemerintahan Daerah Limo lo pohalaa dibagi atas tiga Onder Afdeling yaitu :
  • Onder Afdeling Kwandang
  • Onder Afdeling Boalemo
  • Onder Afdeling Gorontalo
Selanjutnya pada tahun 1920 berubah lagi menjadi lima distrik yaitu :
  • Distrik Kwandang
  • Distrik Bone
  • Distrik Gorontalo
  • Distrik Boalemo
Pada tahun 1922 Gorontalo ditetapkan menjadi tiga Afdeling yaitu :
  • Afdeling Gorontalo
  • Afdeling Boalemo
  • Afdeling Buol
Sebelum kemerdekaan Republik Indonesia, rakyat Gorontalo dipelopori oleh Bpk H. Nani Wartabone berjuang dan merdeka pada tanggal 23 Januari 1942. Selama kurang lebih dua tahun yaitu sampai tahun 1944 wilayah Gorontalo berdaulat dengan pemerintahan sendiri. Perjuangan patriotik ini menjadi tonggak kemerdekaan bangsa Indonesia dan memberi imbas dan inspirasi bagi wilayah sekitar bahkan secara nasional. Oleh karena itu Bpk H. Nani Wartabone dikukuhkan oleh Pemerintah RI sebagai pahlawan perintis kemerdekaan.
Pada dasarnya masyarakat Gorontalo mempunyai jiwa nasionalisme yang tinggi. Indikatornya dapat dibuktikan yaitu pada saat "Hari Kemerdekaan Gorontalo" yaitu 23 Januari 1942 dikibarkan bendera merah putih dan dinyanyikan lagu Indonesia Raya. Padahal saat itu Negara Indonesia sendiri masih merupakan mimpi kaum nasionalis tetapi rakyat Gorontalo telah menyatakan kemerdekaan dan menjadi bagian dari Indonesia.
Selain itu pada saat pergolakan PRRI Permesta di Sulawesi Utara masyarakat wilayah Gorontalo dan sekitarnya berjuang untuk tetap menyatu dengan Negara Republik Indonesia dengan semboyan "Sekali ke Djogdja tetap ke Djogdja" sebagaimana pernah didengungkan pertama kali oleh Ayuba Wartabone di Parlemen Indonesia Timur ketika Gorontalo menjadi bagian dari Negara Indonesia Timur.

Sistem Pemerintahan

Pemerintahan di daerah Gorontalo pada masa perkembangan kerajaankerajaan adalah bersifat monarkikonstitusional, yang pada awal mula pembentukan kerajaan-kerajaan tersebut berakar pada kekuasaan rakyat yang menjelmakan diri dalam kekuasaan Linula, yang sesungguhnya menurutkan azas demokrasi. Organisasi pemerintahan dalam kerajaan terbagi atas tiga bagian dalam suasana kerjasama yang disebut "Buatula Totolu", yaitu :
  • Buatula Bantayo; dikepalai oleh Bate yang bertugas menciptakan peraturan-peraturan dan garis-garis besar tujuan kerajaan
  • Buatula Bubato; dikepalai oleh Raja (Olongia) dan bertugas melaksanakan peraturan serta berusaha mensejahterakan masyarakat.
  • Buatula Bala; yang pada mulanya dikepalai oleh Pulubala, bertugas dalam bidang pertahanan dan keamanan.
Olongia Lo Lipu (Maha Raja Kerajaan) adalah kepala pemerintahan tertinggi dalam kerajaan tetapi tidak berkuasa mutlak. Ia dipilih oleh Bantayo Poboide dan dapat dipecat atau di mazulkan juga oleh Bantayo Poboide. Masa jabatannya tidak ditentukan, tergantung dari penilaian Bantayo Poboide. Hal ini membuktikan bahwa kekuasaan tertinggi dlm kerajaan berada dalam tangan Bantayo Poboide sebagai penjelmaan dari pd kekuasaan rakyat.
Olongia sebagai penguasa tertinggi dalam kerajaan, terdapat pula jabatan tinggi lainnya yaitu "Patila" (Mangku Bumi) selanjutnya disebut Jogugu. Wulea Lo Lipu (Marsaoleh) setingkat dengan camat. Disamping Olongia dan pembantu-pembantunya sebagai pelaksana pemerintahan seharihari terdapat suatu Badan Musyawarah Rakyat (Bantayo Poboide) yang diketuai oleh seorang Bate. Setiap kerajaan mempunyai suatu Bantayo Poboide yang berarti bangsal tempat bermusyawarah. Di dalam bangsal inilah diolah dan dirumuskan berbaga
  • Menetapkan adat dan hukum adat.
  • Mendampingi serta mengawasi pemerintah.
  • Menggugat Raja.
  • Memilih dan menobatkan Raja dan pembesar-pembesar lainnya.
Bantayo Poboide dalam menetapkan sesuatu, menganut musyawarah dan mufakat untuk menghendaki suatu kebulatan suara dan bersama-sama bertanggung jawab atas setiap keputusan bersama. Demikianlah gambaran singkat tentang sejarah dan pemerintahan pada kerajaan-kerajaan di Daerah Gorontalo yang berlandaskan kekuasaan rakyat atau demokrasi.

Sejarah Terbentuknya Provinsi

Terinspirasi oleh semangat Hari Patriotik 23 Januari 1942, maka pada tanggal da bulan yang sama pada tahun 2000, rakyat Gorontalo yang diwakili oleh Dr. Ir. Nelson Pomalingo, MPd ditemani oleh Natsir Mooduto sebagai ketua Panitia Persiapan Pembentukan Provinsi Gorontalo Tomini Raya (P4GTR) serta sejumlah aktivis, atas nama seluruh rakyat Gorontalo mendeklarasikan berdirinya Provinsi Gorontalo yang terdiri dari Kabupaten Gorontalo dan Kota Gorontalo terlepas dari Sulawesi Utara.Sebagaimana tercantum dalam Undang-Undang No. 10 tahun 1964 yang isinya adalah bahwa Kabupaten Gorontalo dan Kota Gorontalo merupakan wilayah administrasi dari Propinsi Sulawesi Utara. Setahun kemudian tepatnya tanggal 16 Februari 2001, Tursandi Alwi sebagai Penjabat Gubernur Gorontalo dilantik.

Membahas mengenai tempat wisata di Gorontalo tentu sangat luas dan bervariasi, Provinsi Gorontalo memiliki luas wilayah 11.967,54 km persegi dan terdiri dari 5 kabupaten dan 1 kota dimana setiap daerah di Gorontalo tersebut memiliki tempat wisata masing-masing yang bisa dikunjungi.
1. Benteng Otanaha
Benteng Otanaha adalah benteng bersejarah di Gorontalo yang diperkirakan dibangun pada abad ke-15, walaupun sudah tidak sepenuhnya utuh tetapi benteng ini menjadi salah satu tempat wisata di Gorontalo yang bisa anda kunjungi. Benteng Otanaha lokasinya berada di Kelurahan Dembe I, Kecamatan Kota Barat, Kota Gorontalo.
Benteng Otanaha letaknya berada diatas bukit sehingga wisatawan yang ingin berkunjung harus berjalan melalui ratusan anak tangga untuk mencapainya, setelah sampai diatas, selain melihat benteng bersejarah pengunjung juga bisa melihat pemandangan kota Gorontalo dari ketinggian serta pemandangan Danau Limboto yang letaknya bersebelahan dengan benteng ini.
2. Pentadio Resort
Pentadio adalah nama sebuah desa di Gorontalo yang berada di Kecamatan Telagabiru, Kabupaten Gorontalo, disini terdapat sebuah kawasan wisata yang dinamakan Pentadio Resort, letaknya berada di pinggir danau limboto. Pentadio Resort memiliki kolam renang air hangat dan air dingin, sauna, sumber air panas alami serta fasilitas wisata lainnya.
3. Pantai Bolihutuo
Di Kabupaten Boalemo Provinsi Gorontalo terdapat sebuah pantai bernama Pantai Bolihutuo atau yang dikenal juga dengan nama Pantai Boalemo Indah. Pantai yang berjarak sekitar 120 km dari Kota Gorontalo ini merupakan salah satu destinasi wisata andalan Kabupaten Boalemo. Pantai Bolihutuo memiliki ombak yang tenang dan disekeliling pantai ditumbuhi pohon pinus.
4. Taman Laut Pulau Bitila
Bagi anda penikmat wisata bawah laut, di Gorontalo anda bisa berkunjung ke Taman Laut Pulau Bitila yang berada di sekitar kawasan teluk tomini, tempat ini dikabarkan memiliki beragam biota laut dan terumbu karang yang indah tidak kalah dari Bunaken, lokasinya berada di Kabupaten Boalemo, Provinsi Gorontalo.
Selain Pantai Bolihutuo dan Taman Laut Pulau Bitila, di Kabupaten Boalemo juga terdapat pulau lainnya yang memiliki pasir putih, informasi tersebut anda bisa lihat disini.
5. Air Terjun Lombongo
Selain wisata bahari, Gorontalo juga punya air terjun yang terletak di Taman Nasional Bogani Nani Wartabone, air terjun tersebut bernama air terjun lombongo. Air terjun lombongo ini berada tidak jauh dari pemandian air panas, lokasinya berada di Desa Lombongo, Kecamatan Suwawa, Kabupaten Bone Bolango, Provinsi Gorontalo.
6. Air Terjun Taludaa
Sesuai namanya air terjun taludaa berada di Desa Taludaa, Kecamatan Bone Pantai, Kabupaten Bone Bolango, Provinsi Gorontalo. Air terjun ini memiliki ketinggian lebih dari 40 meter dengan sebuah kolam di bawahnya.