Wednesday, June 29, 2016

Kesenian Tari Empat Lawang Dan Nilai Sejarahnya


Terdapat banyak kesenian didaerah Lintang Empat Lawang, tetapi sayang telah banyak kesenian yang tidak terlihat lagi, karena banyak kaum muda didusun tidak mau belajar, bukan tidak mungkin kesenian khas lintang akan habis di telan zaman, sekarang pemuda-pemudi dusun lebih senang nyanyi lagu modern, bila belajar kesenian daerah sendiri kata mereka ketinggalan zaman, kita bisa melihat ketika ada yang menikahkan anak, kesenian yang ada hanya organ tunggal, karaokean, ditambah lagi mabuk-mabukan, itu bukan merupakan kebudayaan kita, tanpa panjang lebar lagi akan saya coba kupas yang pertama:



          Ado banyak kesenian di daerah kito Lintang Empat Lawang, anyo sayang lah banyak kesenian nyo nedo tekinak agi, karno banyak bujang gadis di dusun nendak agi belajar, bukan nedo mungkin kesenian khas daerah Lintang abis di telan zaman, embak kini Bujang gadis dusun galak a, nyanyi nyanyi nyo modern, bilo belajar kesenian daerah dewek uji o ketinggalan zaman, kito pacak kinai bilo dang ado nyo ngantenkan anak, kesenian nyo ado cuma organ tunggal, karaokean, ditambah agi mabuk mabuk an, nah ini bukan budayo kito, nah nedo panjang lib'ar agi kami cobo kupas nyo pertamo :


1. NGURIT (GURITAN)

          Kesenian Guritan, sekarang sudah tidak ada lagi di dusun, telah lenyap ditelan gelombang zaman, jika kita bertanya  kepada anak muda didusun kini, maka mereka akan menjawab tidak tahu apa itu guritan.

          Guritan, kesenian zaman dulu yang menceritakan tentang nenek puyang, biasanya menceritakan peperangan, berebut kekuasaan, kisah dengan pacar antara putra dan putri raja, yang menggunakan kesaktian, strategi dan lain-lain, cerita ii percaya atau tidak tetapi buktinya sampai sekarang masih ada peninggalannya, seperti: batu bersejarah di dusun batu Pance, dan ada nama Lubuk Siluman dan lain-lain.

          Kesenian Guritan ini, biasanya diadakan pada acara menikahkan anak, sejak dipihak rumah calon istri mengundang orang yang bias bercerita Guritan ini, yang menonton dan mendengar ramai sekali, biasanya cerita guritan ini menghabiskan waktu paling tidak 3 sampai 4 jam. Kadang sejak sore sampai subuh, biasanya dia bercerita ini sambil memegang Gerigek yang tidak ada isinya, sambil mengalunkan irama Lintang empat lawang, sambil diikuti syair, pantun-pantun yang lucu, yang ada maknanya, ini syair yang sering di nyanyikan:

         

"Bukan bae Simpai bebaju abang

Burung Kedubu abang pulo

Bukan bae ngindu kemambang

Cera'i bekundang kemambang pulo"



Itulah sekilas tentang kesenian Lintang (GURITAN), mudah-mudahan orang tua di dusun masih ingat tentang guritan ini, bisa mewariskannya dengan anak-anak muda,



2. ANDAI – ANDAI

Kesenian Andai-andai sudah tidak terdengar lagi di dusun, orang di dusun lebih senang nonton TV, dan mendengar radio.Sebenarnya, andai-andai hamper sama saja dengan guritan, Cuma ceritanya lebih ditekankan dengan khayalan, seperti cerita seribu satu malam, tentang cerita Abu Nawas. Kalau di dusun lakon ceritanya lucu, ini yang disenangi oleh anak kecildi dusun dulu, biasanya kakek atau nenek yang bercerita sebelum cucunya tidur.


3. BEREJUNG

Kesenian Bujang Gadis dusun yang sedang mabuk kepayang dilanda cinta, berejung ini identik dengan perpaduan pantun diiringi Gitar tunggal, biasanya irama dan syairnya menyayat hati, kiasan dan bahasanya halus, ibarat membayangkan bagaimana bujang mau menemui gadis, sambil duduk di beranda atau di anak tangga belakang rumah, di petik gitar tunggal sambil menyanyikan syair-syair yang meratap. 

Ini syair-syair yang sering terdengar:



Jak Selamo di Seleman

Gajah Tagoring kayek Timbuk

Jak Selamo Linjang ngan dengan

Ado Sebulan nedo benyawo



Nak Kayek ayam papilu

Dang ngerham telhro o duo

Kapo dengan nak balik kami milu

Tinggal sug'rha nemak asonyo


Kedalak kedali dali

Burung tiung belago tigo

Amon galak kebilo agi

Nunggu setaun la lamo igo


Ketapang kayu nyeraye

Gadis nyemulung ngambin ayek

Ngelombang la lemak bae

Nga gai rupu'an nani balik.


4. BAJIDUR (NABUH JIDUR)

Bajidur, atau Nabuh Jidur ini dilakukan oleh suatu group Kesenian Jidur terdiri dari 6 orang bujang bujang ( kalau di betawi sedikit mirip dengan Tanjidor).

Pada umumnya Kesenian ini disaksikan para bujang bujang dan orang tua, dengan duduk melingkar di ruang tengah didalam rumah, juga disaksikan para gadis gadis dengan cara mengintip dari ruang belakang, sambil menyiapkan makanan-makanan kecil untuk orang yang bejidur tersebut.


Dari ke 6 orang tadi mendapat tugas masing masing sebagai berikut :

1 Orang Nabuh jidur

2 Orang Nabuh Ktipung

1 Orang nabuh gong

2 Orang bedanah


Kesenian ini biasanya dilaksanakan seminggu sebelum perayaan pesta perkawinan penganten berlangsung. Dilakukan pada malam hari sebagai pertanda bahwa seorang warga akan mempunyai hajat merayakan pesta perkawinan anaknya, dimana harinya sudah ditentukan dengan mengumpulkan family, sahabat dan kenalan dekat untuk mempersiapkan egala sesuatu yang diperlukan untuk hari pesta nanti.

Misalnya, dekorasi (aesan) yang di kerjakan oleh bujang dan gadis secara bergotong royong yang menjadi semboyan “ado gawean mintak digawekan ado makan mintak dimakani, sekaligus nyerahkan ka’aguan”.


Disinilah kesempatan bujang dan gadis menjalin hubungan, dengan harapan kapan kita menyusul seperti teman yang akan menikah ini.

Pelaksanaan Bajidur ini yaitu, si penabuh Jidur mendendangkan lagu – lagu, beriramakan lagu lagu Qosidah dengan mengunakan syair jenaka, sindiran-sindiran pantun seperti kata berejung.


Setelah beberapa bait syair di iramakan maka diikuti oleh 2 orang penabuh ketipung dan 1 orang pemukul gong dan dilengkapi dengan 2 orang bedanah yang lenggang lenggoknya sesuai dengan irama yang didendangkan.

Kalau anda melihat dan mendengarkannya, tentu akan tersiruk (tercengang), aduhai sudah tua ingin menjadi muda lagi.

Nah itulah sekilas seni budaya Bajidur di daerah Lintang Empat Lawang, seni budaya ini sejak tahun 80 an sudah sangat jarang terlihat, memasuki tahun 90 an bahkan sudah menghilang sama sekali.


5. Seni Tari

Sebenarnya masih sangat banyak Seni Budaya daerah Lintang IV Lawang, namun karena keterbatasan informasi yang kami dapatkan, hanya beberapa seni yang dapat kami tampilkan, nah pada akhir topic bahasan seni budaya ini, kami coba menampilkan seni tari daerah Lintang IV Lawang. Yang kondisinya sama dengan Seni-seni yang lain, makin ditinggalkan oleh generasi generasi sekarang, banyak orang Empat Lawang yang tidak tahu bahwa sesungguhnya Lintang IV Lawang itu memiliki juga seni tari, diantaranya ;


Tari Gegerit :



Pelakunya,

Dimainkan / ditarikan oleh 7 orang Putri

Pelaksanaan,

Tarian ini dilakukan sewaktu penyambutan tamu dalam upacara adat maupun

Upacara penganten, yang dilakukan dipintu gerbang.


Tari Sanggan Sirih :

Pelakunya,

Tari ini dimainkan oleh beberapa orang, disesuaikan dengan ruangan yang ada.

Pelaksanaan,

Tarian ini dilaksanakan dalam acara hiburan, setelah acara resmi dibuka, maka

tamu ikut menari, dan para penari khusus yang membawa selendang, untuk di

kalungkan kepada tamu yang disenanginya untuk diajak sebagai pasangannya

menari. 


Tari Piring :

Pelakunya,

Tari ini dimainkan oleh 2 orang penari

Pelaksanaan,

Tarian ini dailakukan sebagai bentuk keterampilan, yang pelaksanaannya pada

acara adat atau upacara penganten



Redap Kelentang :

Pelakunya,

Pemainnya sebanyak 5 orang yaitu, 1 orang pemain redap, 1 orang pemain

kelentang, 1 orang pemain gong dan 2 orang pesilat.

Pelaksanaan,

Seni ini dilakukan dalam upacara penganten, sebagai tanda adanya pesta

Pernikahan atau pesta peresmian pertunangan (nunggu tunang).

Demikian sekilas Seni Budaya daerah Lintang IV Lawang, yang sebagaian telah musnah, kami (penulis) sangat berharap kepada Pemda Kabupaten Empat Lawang, memberikan perhatian kepada kesenian yang pernah ada di daerah Empat Lawang, ditumbuh kembangkan lagi, sehingga dapat dijadikan sebagai objek wisata, bahkan lebih dari itu, agar para generasi penerus anak bangsa mengenali seni budaya daerah mereka…….semoga


7. Seni Bela Diri/ Kuntau

Sejarah Kuntau



Menurut Yamin yang merupakan orang Lintang mengatakan bahwa kuntau Lintang 4 Lawang berasal dari Tebing Tinggi yaitu sekitar tahun 1890-an Gindo Kintang (almarhum) yang merupakan orang Lintang, pergi ke daerah Tebing Tinggi yang kemudian belajar ilmu beladiri kuntau kepada Jaya (almarhum) yang merupakan orang daerah Gu Aras, Tebing Tinggi. Pada tahun 1895-an Gindo Kintang kembali ke daerah Lintang 4 Lawang, yang kemudian mengajarkan ilmu baladiri kuntau kepada orang-orang Lintang yang salah satu muridnya adalah Muin (almarhum), yang kemudian juga mengajarkan kuntau di Lintang dan salah satu murid Muin adalah Mat Diyas (almarhum), Mat Diyas juga mempunyai beberapa murid yang salah satunya adalah Mat Demiri (almarhum). Mat Demiri juga mengajarkan dan menyebarluasskan ilmu beladiri kuntau dan mempunyai beberapa murid yang salah satunya adalah Mat Jay (almarhum). Mat Jay mempuyai beberapa murid yaitu diantaranya adalah Marlen, Dit, Tohar, Muslim, sampai sekarang.


          Kuntau merupakan ilmu beladiri yang dijadikan orang – orang Lintang sebagai salah satu kebudayaan Lintang, karena dulu ilmu beladiri kuntau merupakan salah satu sarana dalam mempererat tali persaudaraan, membela dan menjaga diri dari serangan musuh. Kuntau banyak disenangi oleh kaum muda karena dalam ilmu beladiri kuntau, selain mendapat teknik – teknik menyerang, menangkis dalam melumpuhkan musuh juga mendapatkan amalan – amalan ilmu tenaga dalam yaitu ilmu meringankan tubuh seperti berdiri diatas daun dan berjalan diatas air pada saat menyeberangi sungai, Ilmu menghilang (Silam) seperti pada saat terdesak dalam menghadapi banyak musuh dalam sekejap dapat menghilangkan diri dari kepungan musuh, Ilmu kebal berupa kebal senjata api, kebal senjata tajam, kebal tembung batu, selain itu ilmu sambut angin yaitu menangkap dan melumpuhkan musuh secepat angin. Contoh salah satu amalan kuntau yaitu Waman Takun Birrosullah, Nusro Tuhul Intal Tuhul, Kosdu Fi Ajamiha Tajum, amalan ini digunakan untuk menghindari diri dari serangan musuh, baik yang halus (gaib) maupun yang kasar (nyata).
SEBAGIAN besar tarian tradisional dalam masyarakat Kabupaten Empat Lawang, Sumatera Selatan, sudah punah akibat kehilangan penerus dan terdesak budaya modern yang lebih atraktif. Akibatnya, generasi muda kehilangan identitas dan sarana untuk menggali sejarah budaya lama.
Tokoh budaya Empat Lawang, Syamsu Indra Usman, di Desa Lubuk Puding, Kecamatan Ulu Musi, Kabupaten Empat Lawang, mengungkapkan, dari delapan jenis tarian tradisional masyarakat setempat, sudah lima tarian yang punah. Tiga tarian lainnya masih lestari meski hanya ditampilkan sesekali dalam upacara adat atau pesta hajatan masyarakat.
Kelima jenis tarian yang punah itu adalah tari gegerit, sanggam sirih, kekok, ngelsambai, dan tari selendang. Masing-masing tari memiliki keunikan gerakan dan fungsi tersendiri, antara lain untuk menyambut tamu, menghibur orang, atau untuk berpantun. "Gerakan tari umumnya diambil dari kehidupan sehari-hari masyarakat, seperti memetik kopi," kata Syamsu.
Tari kekok, misalnya, merupakan tari komedi yang dibawakan penari dengan memakai dua tempurung kelapa, yang masing-masing diletakkan di telapak tangan kiri dan kanan. Tari gegerit dimainkan tujuh gadis di depan gerbang saat menyambut tamu dengan upacara adat, yang diiringi tabuhan gong kulintang dan rebab. Tari ngelsambai dibawakan pasangan muda-mudi yang menari sambil melantunkan pantun bersahut.
Jenis tari yang masih kerap ditampilkan adalah tari ngarak pengantin, melami menda, dan tari pereng. Tari-tarian tersebut masih lestari gerakannya, lebih mudah, dan sering dipanggungkan saat hajatan. Beberapa tari sudah dimodifikasi dengan gerakan yang lebih modern, ditambah gerakan silat atau komedi.
Sejumlah tarian tradisional punah akibat kehilangan generasi penerus setelah ditinggal empu tari yang lama. Menurut mantan Ketua Pemangku Adat Ulu Musi, Usman Asim (78), sebenarnya Empat Lawang pernah memiliki banyak empu tari tradisional beberapa puluh tahun silam. Akan tetapi, setelah mereka meninggal, tidak ada lagi generasi baru yang tertarik mewarisi kemampuan menari itu.
Tahun 1960-an, lanjut Usman Asim, masih terdapat sekitar 10 penari tradisional Empat Lawang. Jumlah itu terus menyusut menjadi enam penari pada tahun 1970-an, kemudian tinggal satu penari tahun 1980-an, yaitu Cik Inah, yang ahli membawakan sejumlah tari klasik. Setelah empu penari itu meninggal pada pertengahan 1980-an, tak ada lagi penerusnya.
"Dahulu banyak sekali orang bisa menari sambil berpantun. Setiap keluarga yang mengadakan hajatan membuat semacam balai terbuka untuk pertunjukan tari selama tujuh hari-tujuh malam. Sekarang anak-anak muda malas menghafal gerakan tari dan pantun," katanya.
Punahnya lima tarian tradisional merupakan kerugian besar bagi kebudayaan Empat Lawang karena masyarakat kehilangan identitas dan sarana untuk menggali akar sejarah. Pada masa dahulu, tari menjadi sarana penting untuk melestarikan sekaligus menyampaikan nilai tradisi kepada masyarakat umum.

Tuesday, June 28, 2016

Kesenian Tari Barong Bali



Pulau Bali

Bali adalah nama salah satu provinsi di Indonesia dan juga merupakan nama pulau terbesar yang menjadi bagian dari provinsi tersebut. Selain terdiri dari Pulau Bali, wilayah Provinsi Bali juga terdiri dari pulau-pulau yang lebih kecil di sekitarnya, yaitu Pulau Nusa Penida, Pulau Nusa Lembongan, Pulau Nusa Ceningan dan Pulau Serangan.

Bali terletak di antara Pulau Jawa dan Pulau Lombok. Ibukota provinsinya ialah Denpasar yang terletak di bagian selatan pulau ini. Mayoritas penduduk Bali adalah pemeluk agama Hindu. Di dunia, Bali terkenal sebagai tujuan pariwisata dengan keunikan berbagai hasil seni-budayanya, khususnya bagi para wisatawan Jepang dan Australia. Bali juga dikenal dengan sebutan Pulau Dewata dan Pulau Seribu Pura.

Sejarah tari Barong
Tari Barong adalah tarian khas Bali yang berasal dari khazanah kebudayaan Pra-Hindu. Tarian ini menggambarkan pertarungan antara kebajikan (dharma) dan kebatilan (adharma). Wujud kebajikan dilakonkan oleh Barong, yaitu penari dengan kostum binatang berkaki empat, sementara wujud kebatilan dimainkan oleh Rangda, yaitu sosok yang menyeramkan dengan dua taring runcing di mulutnya.
Ada beberapa jenis Tari Barong yang biasa ditampilkan di Pulau Bali, di antaranya Barong Ket, Barong Bangkal (babi), Barong Macan, Barong Landung. Namun, di antara jenis-jenis Barong tersebut yang paling sering menjadi suguhan wisata adalah Barong Ket, atau Barong Keket yang memiliki kostum dan tarian cukup lengkap.
Kostum Barong Ket umumnya menggambarkan perpaduan antara singa, harimau, dan lembu. Di badannya dihiasi dengan ornamen dari kulit, potongan-potongan kaca cermin, dan juga dilengkapi bulu-bulu dari serat daun pandan. Barong ini dimainkan oleh dua penari (juru saluk/juru bapang): satu penari mengambil posisi di depan memainkan gerak kepala dan kaki depan Barong, sementara penari kedua berada di belakang memainkan kaki belakang dan ekor Barong.
Secara sekilas, Barong Ket tidak jauh berbeda dengan Barongsai yang biasa dipertunjukkan oleh masyarakat Cina. Hanya saja, cerita yang dimainkan dalam pertunjukan ini berbeda, yaitu cerita pertarungan antara Barong dan Rangda yang dilengkapi dengan tokoh-tokoh lainnya, seperti Kera (sahabat Barong), Dewi Kunti, Sadewa (anak Dewi Kunti), serta para pengikut Rangda.

2.2.   Macam-macam Tari Barong
Barong Ket :
Barong Ket atau Barong Keket adalah tari Barong yang paling banyak terdapat di Bali dan paling sering dipentaskan serta memiliki pebendaharaan gerak tari yang lengkap. Dari wujudnya, Barong Ket ini merupakan perpaduan antara singa, macan, sapi atau boma. Badan Barong ini dihiasi dengan ukiran-ukiran dibuat dari kulit, ditempel kaca cermin yang berkilauan dan bulunya dibuat dari perasok (serat dari daun sejenis tanaman mirip pandan), ijuk atau ada pula dari bulu burung gagak.
Barong Bangkal : Bangkal artinya babi besar yang berumur tua, oleh sebab itu Barong ini menyerupai seekor bangkal atau bangkung, Barong ini biasa juga disebut Barong Celeng atau Barong Bangkung. Umumnya dipentaskan dengan berkeliling desa (ngelelawang) oleh dua orang penari pada hari-hari tertentu yang dianggap keramat atau saat terjadinya wabah penyakit menyerang desa tanpa membawakan sebuah lakon dan diiringi dengan gamelan batel / tetamburan
BARONG LANDU :
Barong Landung adalah satu wujud susuhunan yg berwujud manusia tinggi mencapai 3 meter. Barong Landung tidak sama dengan barong ket yg sudah dikomersialisasikan. Barong Landung lebih sakral dan diyakini kekuatannya sebagai pelindung dan pemberi kesejahteraan umat. Barong Landung banyak dijumpai disekitar Bali Selatan, spt Badung, Denpasar, Gianyar, Tabanan.
Barong Macan:
Sesuai dengan namanya, Barong ini menyerupai seekor macan dan termasuk jenis barong yang terkenal di kalangan masyarakat Bali. Dipentaskannya dengan berkeliling desa dan adakalanya dilengkapi dengan suatu dramatari semacam Arja serta diiringi dengan gamelan batel.
Rangda :
Adalah ratu dari para leak dalam mitologi Bali. Makhluk yang menakutkan ini diceritakan sering menculik dan memakan anak kecil serta memimpin pasukan nenek sihir jahat melawan Barong, yang merupakan simbol kekuatan baik.

2.3.    Pelaksanaan Tari Barong
A.   Alur Cerita
Tari Barong ini merupakan jenis tarian dari Pulau Bali yang cukup terkenal dan geraknya tidak kalah bagus dengan jenis tarian yang ada di Pulau Bali lainnya. Tari Barong terdiri dari lima babak. Untuk keterangan yang lebih jelas, maka penulios akan menceritakan alur ceritanya yang penulis saksikan saat karya wisata ke Pulau Bali.
1.Gending Pembukaan
Barong dan kera sedang bermain di hutan yang lebat, tak lama kemudian dating tiga orang bertopeng yang menggambarkan sedang membuat keributan dan merusak ketengan hutan. Mereka bertemu dengan kera dan akhirnya berkelahi, dimana kera dapat memotong hidung salah seorang dari mereka.
2. Babak I
Dua orang penari muncul. Mereka adalah pengikut – pengikut Rangda dan mereka sedang mencari para pengikut Dewi Kunti yang sedang dalam perjalanan menemui patihnya.
3. Babak II
Para pengikut Dewi Kunti tiba. Saat itu pula, salah seorang pengikut Rangda berubah menjadi setan lalu memasukan roh jahat kepada pengikut Dewi Kunti sehingga menyebabkan mereka menjadi marah.


4. Babak III
Muncullah Dewi Kunti dan anaknya Sahadewa. Ia pun berjanji pada Rangda untuk menyerahkan Sahadewa sebagai korban. Sebenarnya Dewi Kunti tidak sampai hati mengorbankan anaknya pada Rangda. Tetapi setan yang menyebabkan Dewi Kunti menjadi marah dan berniat mengorbankan anaknya serta memerintahkan Patihnya untuk membuang Sahadewa ke dalam hutan. Patihnya juga tak luput dari kerasukan roh jahat, sehingga Sahadewa diikat di muka istana Rangda.
5. Babak IV
Turunlah Dewa Siwa, lalu memberikan keabadian kepada Sahadewa dan keabadian itu tidak diketahui oleh Rangda. Kemudian datanglah Rangda, lalu dia membunuh Sahadewa, tapi Sahadewa tidakmati karena kekebalan yang dianugerahkan oleh Dewa Siwa. Rangda pun menyerah lalu memohon untuk diselamatkan supaya bias masuk surga. Perintah itupun dipenuhi oleh Sahadewa
6. Babak V
Kalika adalah pengikut Rangda. Dia sedang menghadap Sahadewa. Penolakan ini menimbulkan perkelahian, dan kalika berubah menjadi Babi Hutan Sahadewa pun memenangkan perkelahian tersebut, kemudian Kalika berubah menjadi Burung tetapi tetap bisa dikalahkan. Akhirnya, Kalika berubah lagi menjadi Rangda. Oleh karena saktinya Rangda ini maka Sahadewa tidak dapat membunuhnya dan akhirnya Sahadewa berubah menjadi Barong.  Karena sama saktinya maka pertarungan ini berlangsung dengan abadi (kebijakan melawan kebatilan).

B.  Lokasi dan Fasilitas Tempat Pementasan
Tari Barong ini dipertunjukkan di sebuah panggung dan hanya menggunakan penerangan cahaya matahari. Di panggung tersebut terdapat Candi Bentar yang berfungsi sebagai dekorasi sekaligus tempat keluar masuknya penari – penari Tari Barong. Candi Bentar merupakan pintu masuk
Pekarangan desa yang mana sudah jaman dulu sampai sekarang digunakan sebagai latar belakang pementasan tari. Sedangkan dekorasi lainnya adalah sepasang payung upacara dikedua sisi Candi Bentar, umbul – umbul serta beberapa tanaman dan hiasan dari janur khas Bali. Perangkat gamelan di sisi kiri panggung.

C.  Kesurupan Penari Barong
Bali memang menyuguhkan eksotisme. Termasuk budaya mistiknya yang kental di masyarakat. Salah satunya adalah saat pertunjukan tari barong yang disajikan kepada para tamu yang berkunjung ke sanggar-sanggar seni rakyat.
Beberapa saat lalu saya berkesempatan untuk menyaksikan pergelaran Tari Barong di Gianyar, Bali. Pertunjukan biasanya dipergelarkan setiap hari mulai pukul 9.30 hingga pukul 11.30 WITA di sebuah gedung pertunjukan rakyat yang sederhana. Awalnya gedung itu kosong, saya berkesempatan berkeliling gedung. Saya menyaksikan banyak makhluk halus berumah di belakang pentas. Ada beragam jenis makhluk halus yang ada di gedung luas ini. Mulai berbentuk singa namun berbadan manusia, ada yang bertentuk manusia berwarna gelap berkepala besar dan memiliki taring menonjol, ada yang berbentuk kera hitam, ada berbentuk wanita cantik dan lain-lain.
Menjelang pukul 9.30 tempat duduk yang terbuat dari beton itu terisi penuh oleh para tamu wisatawan. Pertunjukan dimulai dengan gamelan Bali yang rancak dan magis. Denyut nadi berdegub penuh gairah. Ini ciri gamelan Bali yang berbeda dengan gamelan Jawa yang lebih pelan. Tari barong itu menyajikan kisah bagaimana Barong simbol kebaikan bertempur dengan Rangda sebagai simbol kejahatan. Barong dan Rangda sama-sama sakti dan tidak terkalahkan. Begitulah isi dunia ini. Selagi dunia ini ada, kejahatan dan kebaikan selalu menjadi pasangan abadi yang tidak pernah lenyap. Pasangan yang siap bertempur tanpa ada yang menang dan kalah.
Yang menarik, pada saat akhir pertunjukan tari yaitu ketika prajurit rangda yang diperankan oleh tiga pria tanpa menggunakan baju itu keluar membawa keris. Mereka unjuk kesaktian. Menusuk-nusukkan keris sekuat tenaga ke dada dan tidak ada luka sedikitpun pada tubuh mereka. Terlihat mereka kebal senjata pada saat-saat khusus yaitu saat kondisi jiwa mereka sedang trance atau kesurupan. Kesadaran fisik mereka menghilang untuk sementara dan diganti dengan kesadaran jiwa dan ruh. Sayangnya, kesadaran jiwa dan ruh siapakah yang memasuki tubuh mereka, mereka sendiri tidak menyadarinya.
Tahukah siapa yang memasuki kesadaran jiwa mereka sehingga senjata apapun tidak mempan melukai tubuh parajurit rangda itu? Yang masuk ke tubuh mereka adalah para makhluk halus yang saya lihat sebelum pertunjukan.
Masuknya makhluk halus ke tubuh mereka terlihat begitu cepat dalam hitungan sepersekian detik. Seiring dengan melemahnya kesadaran para penari tersebut dan diganti dengan kesadaran lain yaitu kesadaran makhluk halus itu. Untungnya, kejadian ini tidak berlangsung lama. Sekitar sepuluh hitungan, seorang pawang makhluk halus (dukun) berpakaian putih datang dan memercikkan air ke tubuh mereka. Seketika itu pula kesaktian mereka hilang dan kesadaran mereka pulih seperti sedia kala.
Fenomena ini sama seperti saat penari kuda lumping memakan kaca dan beling yakni saat kondisi mereka sedang kesurupan, atau pemain debus yang menjilati api namun lidah sama sekali tidak terbakar. Kesurupan adalah kondisi saat kesadaran kita hilang dan diganti dengan kesadaran lain yang bukan kesadaran diri kita. Kesadaran semacam ini bisa direkayasa untuk maksud-maksud khusus sepertki pertunjukan dan lain-lain. Kesurupan memang tidak selalu enak ditonton karena menyajikan atraksi kekebalan badan.
Kalau tari barong, debus dan kuda lumping nyaman dinikmati sebagai hiburan tidak demikian dengan aksi para politikus yang biasanya juga mengadakan atraksi “kesurupan.” Pertunjukan mereka sangat buruk dan dari segi moral sangat tidak nyaman dirasakan oleh rakyat kebanyakan. Lihatlah bagaimana mereka yang terlibat kasus Bank Century (para petinggi negara), KPK—Kejaksaan—Kepolisian, dan berbagai kasus lain saling berebut mencari pembenaran. Mereka juga benar-benar kesurupan saat hanya menyalahkan pihak lain dan membenarkan dirinya sendiri. Seakan-akan diri merekalah yang paling benar dan berhak untuk bebas dari jeratan hukum. Para tersangka ternyata juga kebal. Bila penari Barong kebal senjata tajam, maka para tersangka kebal hukum. Bila penari Barong bisa sadar dari kesurupan karena bantuan dukun, para tersangka mungkin tidak pernah sadar karena hati nurani mereka telah terbiasa untuk ditipu daya oleh kesadaran-kesadaran palsu.

2.4.  Daya Tarik Tari Barong
Tari barong selain sebagai tarian tradisional merupakan sebuah kesenian yang bersifat sakral. Namun di balik ke sakralan tarian ini, ternyanta menyimpan sebuah ke unikan tersendiri baik itu dalam cara pementasannya maupun daya tarik tersendiri bagi para pengunjung.
Pada awalnya, seni ini merupakan seni pertunjukan yang bersifat sakral dan pementasannya dilaksanakan hanya pada saat-saat tertentu, misalnya pada saat upacara bersih desa yangdiselenggarakan pada minggu pertama bulan Haji (Besar). Tetapi, dewasa ini seni barong sudah menjadi pertunjukan yang bersifat hiburan sehingga bisa dipentaskan pada saat pesta perkawinan, khitanan, atau pergelaran-pergelaran seni lainnya. Kesenian ini merupakan seni rakyat yang secara khusus mengandung ciri khas Using, baik yang menyangkut musik, tari, dialog, maupun ceritanya
Tari Barong biasanya diiringi beberapa gamelan khas, seperti kendang, kecrek, gong dan ketuk. Sekilas, gamelan Barong mirip Kuda Lumping dan Reog Ponorogo. Bedanya, Barong tidak menggunakan terompet. Personal Barong 12 orang, terdiri atas dua penari Barong, dua penari berbentuk ayam. Barong ditarikan dua orang, di kepala dan di bagian ekor. Gending pengiring Barong sarat petuah kehidupan. Musiknya rancak seperti orang bertarung sebagai simbol kebersamaan. Ada sekitar 20 jenis gending pengiring Barong. Di antaranya, kembang jeruk, prejengan dan kopyahan. Dalam sekali tarian membutuhakan waktu sekitar 2 jam. Tari Barong diakhiri tari Ayam Bertarung, simbol suasana kemenangan.

Dalam Pesta Perkawinan
Sudah menjadi kewajiban bagi masyarakat setempat menanggap barong Kemiren dalam hajat apa pun. Dengan menanggap barong, sang pengantin berharap rumah tangganya selalu bahagia dan mendapat banyak keberuntungan. Masyarakat Kemiren pun menjadikan acara ini sebagai hiburan yang tak pernah lekang.
Saat prosesi biasanya barisan macan-macanan berada di depan barong, di belakang barong, sepasang pengantin duduk di atas kereta kuda. Iring-iringan diarak berkeliling desa dan berakhir di rumah sang pengantin. Tontonan ini  disebut arak-arakan Barong Kemiren, yang ditanggap dalam hajat perkawinan tradisional di desa yang berjarak 6 kilometer dari Kota Banyuwangi itu..
Barong Kemiren bisa juga ditanggap semalaman suntuk. Dengan tiga tahap cerita, barong dimainkan . Barong Kemiren tak sekadar menjadi kesenian yang ditanggap untuk menghibur. Oleh warga desa, yang sebagian besar petani, barong sangat disakralkan karena dipercaya memiliki kekuatan magis arwah nenek moyang.

Upacara Bersih Desa
Pemangku adat Desa Kemiren, Serad, bercerita, barong dipakai dalam upacara bersih desa, yang dilakukan setiap setiap tanggal 2 Syawal atau Lebaran ( idul Fitri ) kedua, yang disebut upacara Idher Bumi. Barong dengan tabuhan gamelan mengelilingi desa dan ditutup dengan makan bersama di sepanjang jalan desa.
Dalam acara Ider Bumi ada empat jenis tarian Barong yang ditampilkan dan mempunyai cerita sendiri-sendiri. Keempat jenis Barong tersebut adalah Barong Tua, Barong Remaja, Barong anak-anak dan Barongsai. Keempat jenis Barong adalah sebagai lambang generasi-generasi yang menghuni desa Kemiren. Diikutkannya Barongsai dalam acara tersebut karena di desa Kemiren yang terkenal dengan Kampung Using ternyata ada etnik lain yang menghuninya, yaitu Tionghoa.
Acara serupa dilaksanakan setiap tanggal 1 bulan Haji dengan membuat seribu tumpeng atau dikenal dengan selamatan “Tumpeng Sewu“. “Ritual ini sebagai ucapan syukur masyarakat karena diberikan rejeki berlebih,” Serad menambahkan. Barong sebagai sarana ritual kesuburan tampak pada makanan yang disajikan, yakni makanan hasil bumi, seperti nasi tumpeng dan sayur, jajan pasar, pala kependhem, pala gumandhul, dan pala kesimpar. Selain Ritual ini dilaksanakan untuk menghormati danyang desa Kemiren agar kemakmuran desa tetap terjaga dan terjauhkan dari bencana.
Tersebutlah riwayat 20 tahun lalu. Upacara ini pernah ditinggalkan karena hujan lebat. Beberapa hari kemudian, istri salah satu ahli waris barong kesurupan. Ia berteriak-teriak marah karena Idher Bumi tidak digelar. Tidak lama kemudian, bayi wanita itu meninggal. “Kami takut kalau sampai ritual Idher Bumi tidak digelar,” kata Serad.
Kesakralan Barong juga dimanfaatkan untuk pengobatan penyakit. Obat diambilkan dari kemenyan yang dibakar di bawah tubuh barong, lalu dilarutkan dalam air, yang dipercaya bisa mengobati berbagai penyakit, mulai buta hingga sakit perut.mulai pukul 21.00 sampai 06.00 keesokan harinya.
Daya tarik yang tawarkan dalam tarian ini adalah kesakralan dalam pementasannya. Namun tidak hanya itu, tari barong di bali juga memiliki ke unikan tersendiri. Dari berbagai daerah di Bali tari barong berbeda. Sebagai pertunjukan adat dan agama, kesenian barong tersebut dipentaskan tidak di sembarang tempat dan waktu. Pertimbangan ‘dewasa ayu’ (hari baik), tempat-tempat sakral dan suci serta tujuan-tujuan tertentu juga menjadi pertimbangan untuk pertunjukan. Setiap pementasan kesenian itu selalu dilengkapi dengan upacara sesajen tertentu sesuai dengan adat masyarakat masing-masing pendukungnya. Oleh karena itu, kesenian Barong Landung dapat digolongkan sebagai seni sakral ataupun seni wali bila ditinjau dari segi fungsinya.
Kuantitas perkembangan kesenian Barong Landung di Bali masih statis, hanya terdapat di beberapa kabupaten yakni Gianyar, Badung, Denpasar dan Tabanan. Bahkan jenis pertunjukannya yang masih aktif di beberapa kabupaten tersebut hingga kini jumlahnya relatif sedikit, karena sangat beralasan tidak semua kabupaten di Bali memiliki kesenian Barong Landung. dalam keinginan saya disuatu saat saya bisa tinggal di Bali dan bisa lebih mengetahui budaya bali yang unik.